Ramadhan 2026

Nuzulul Qur’an: Kompas dan Arah Peradaban

Sebagian memulai Ramadhan bersama kita, tetapi tak semua diberi umur untuk menapaki hari-hari terbaik di bulan yang penuh rahmat ini.

Tayang:
Editor: Nasaruddin
ISTIMEWA
Muhammad Viki Riandi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat 
Penulis: Muhammad Viki Riandi
Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat

Pertengahan Ramadhan selalu menghadirkan rasa syukur yang mendalam bagi setiap muslim yang merenunginya.

Tidak semua orang diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk sampai pada titik ini.

Sebagian memulai Ramadhan bersama kita, tetapi tak semua diberi umur untuk menapaki hari-hari terbaik di bulan yang penuh rahmat ini.

Maka ketika kita masih berada di pertengahannya, masih mampu berpuasa, masih dapat berdiri dalam shalat malam dan masih dapat membaca ayat-ayat-Nya, sesungguhnya itu adalah karunia yang tak ternilai.

Di titik pertengahan Ramadhan ini pula umat Islam di Indonesia mengenang satu peristiwa yang sangat agung: Nuzulul Qur’an, turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shalaullahu Alaihi Wasallam.

Di tengah masyarakat kita, tanggal 17 Ramadhan sangat dikenal sebagai momentum turunnya Al-Qur’an.

Tradisi peringatan ini telah hidup lama dalam budaya keislaman Nusantara, mulai dari pengajian di masjid hingga berbagai kegiatan keagamaan yang menghidupkan malam Ramadhan.

Memang dalam kajian para ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya.

Sebagian riwayat menyebut malam 17 Ramadhan sebagai awal turunnya wahyu, sementara sebagian ulama lain mengaitkannya dengan malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Namun di balik perbedaan tersebut, ada satu kesepakatan besar yang tidak diperselisihkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.

Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

 

شَهْرُرَمَضَانَالَّذِيأُنْزِلَفِيهِالْقُرْآنُهُدًىلِلنَّاسِوَبَيِّنَاتٍمِنَالْهُدَىوَالْفُرْقَانِ

 

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam.

Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab yang dibaca dalam ritual ibadah, tetapi sebagai petunjuk kehidupan.

Ia datang untuk membimbing manusia dalam membedakan antara yang benar dan yang salah, yang adil dan yang zalim, yang membangun peradaban dan yang meruntuhkannya.

Karena itu, Nuzulul Qur’an sejatinya bukan sekadar peringatan historis tentang turunnya wahyu.

Ia adalah momentum refleksi bagi umat Islam bahwa sejauh mana Al-Qur’an masih hidup dalam kehidupan kita hari ini?

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat kondisi dunia saat ini.

Dalam skala global, dinamika geopolitik semakin rumit.

Konflik antar negara masih terjadi, rivalitas kekuatan besar semakin terasa, dan kepentingan politik sering kali mengalahkan nilai kemanusiaan.

Dunia seperti bergerak cepat, tetapi tidak selalu menuju arah yang lebih bijaksana.

Di sisi lain, tekanan ekonomi global juga menjadi kenyataan yang dirasakan banyak masyarakat.

Ketidakpastian ekonomi, kesenjangan sosial, dan meningkatnya biaya hidup membuat sebagian orang harus berjuang lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit manusia yang akhirnya menilai keberhasilan hidup hanya dari ukuran materi.

Namun persoalan manusia modern ternyata tidak hanya berhenti pada ekonomi dan politik.

Kita juga menyaksikan fenomena yang lebih mendasar yakni krisis nilai dan moralitas.

Kemajuan teknologi digital yang luarbiasa membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.

Informasi bergerak tanpa batas, opini beredar dengan sangat cepat, dan ruang publik sering kali dipenuhi oleh pertengkaran kata-kata.

Fenomena perundungan digital, penyebaran kebencian, budaya konsumtif, hingga krisis integritas menjadi cerminan bagaimana kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan moral.

Dalam dunia yang seperti ini, manusia sebenarnya memiliki pengetahuan yang semakin luas, tetapi sering kehilangan kompas etika yang menuntun arah kehidupannya.

Di sinilah Al-Qur’an menemukan relevansinya kembali.

Al-Qur’an bukan hanya kitab yang berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang nilai-nilai yang membangun peradaban.

Ia mengajarkan keadilan dalam ekonomi, amanah dalam kekuasaan, kejujuran dalam hubungan sosial, serta kemuliaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, ia tidak hanya menyinggung moral individu, tetapi juga fondasi kepercayaan dalam kehidupan sosial.

Ketika ia berbicara tentang keadilan, ia tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga tentang keseimbangan dalam tatanan masyarakat.

Sejarah Islam sendiri menjadi bukti bagaimana Al-Qur’an mampu mengubah wajah sebuah masyarakat.

Bangsa Arab yang sebelumnya hidup dalam fragmentasi suku, konflik, dan ketimpangan moral, berubah menjadi masyarakat yang melahirkan peradaban besar.

Perubahan itu tidak terjadi semata-mata karena kekuatan politik atau militer, tetapi karena wahyu benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Al-Qur’an dibaca, dipahami, direnungkan, dan diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana menghidupkan kembali Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat kita hari ini?

Jawaban paling jujur sebenarnya sederhana, tetapi sering terabaikan yakni memulai dari rumah kita sendiri.

Rumah adalah ruang pertama tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan.

Jika Al-Qur’an ingin kembali menjadi cahaya bagimasyarakat, ia harus terlebih dahulu hidup di dalam keluarga.

Membiasakan membaca Al-Qur’an di rumah, mengajak anak-anak mendengarayat-ayatnya, serta menjadikannya bagian dari percakapan sehari-hari adalah langkah kecil yang dampaknya sangat besar.

Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan Al-Qur’an tidak hanya belajar membaca huruf-hurufnya, tetapi juga menyerap nilai-nilai yang membentuk karakter mereka.

Selain rumah, masjid juga memiliki peran yang sangat penting.

Dalam sejarah Islam, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan pembinaan masyarakat.

Di sana orang belajar Al-Qur’an, berdiskusi tentang kehidupan, serta membangun solidaritas sosial.

Masjid pada masa Nabi bahkan menjadi pusat peradaban.

Dari sanalah lahir generasi yang tidak hanya kuat dalam ibadah, tetapi juga matang dalam kepemimpinan, ilmu pengetahuan, dan tanggungjawab sosial.

Masjid-masjid kita hari ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk kembali memainkan peran itu.

Kajian tafsir yang hidup, halaqah tilawah yang rutin, diskusi keislaman yang relevan dengan tantangan zaman, serta pembinaan generasi muda dapat menjadikan masjid sebagai ruang kebangkitan nilai-nilai Qur’ani.

Ketika rumah dan masjid kembali dipenuhi oleh cahaya Al-Qur’an, maka perubahan sosial tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh.

Ia akan tumbuh secara alami dari masyarakat itu sendiri.

Itulah sebabnya Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang bersifat seremonial.

Ia adalah pengingat bahwa Allah telah memberikan kepada manusia sebuah petunjuk yang tidak lekang oleh perubahan zaman.

Pertengahan Ramadhan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Al-Qur’an hanya hadir di tangan kita pada bulan suci ini, ataukah ia benar-benar menjadi cahaya yang menuntun langkah kita sepanjang tahun?

Karena pada akhirnya, kebangkitan umat tidak selalu dimulai dari panggung besar sejarah.

Ia sering kali lahir dari sesuatu yang paling dekat dan sederhanaya itu dari rumah yang kembali dipenuhi bacaan Al-Qur’an, dari masjid yang kembali hidup dengan ayat-ayatnya, dan dari hati manusia yang kembali menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Jika itu terjadi, maka Nuzulul Qur’an tidak hanya kita peringati setiap tahun.

Ia benar-benar akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat manusia di tengah gelombang zaman.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved