Ramadhan 2026

Nuzulul Qur’an: Kompas dan Arah Peradaban

Sebagian memulai Ramadhan bersama kita, tetapi tak semua diberi umur untuk menapaki hari-hari terbaik di bulan yang penuh rahmat ini.

Tayang:
Editor: Nasaruddin
ISTIMEWA
Muhammad Viki Riandi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat 

Informasi bergerak tanpa batas, opini beredar dengan sangat cepat, dan ruang publik sering kali dipenuhi oleh pertengkaran kata-kata.

Fenomena perundungan digital, penyebaran kebencian, budaya konsumtif, hingga krisis integritas menjadi cerminan bagaimana kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan moral.

Dalam dunia yang seperti ini, manusia sebenarnya memiliki pengetahuan yang semakin luas, tetapi sering kehilangan kompas etika yang menuntun arah kehidupannya.

Di sinilah Al-Qur’an menemukan relevansinya kembali.

Al-Qur’an bukan hanya kitab yang berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang nilai-nilai yang membangun peradaban.

Ia mengajarkan keadilan dalam ekonomi, amanah dalam kekuasaan, kejujuran dalam hubungan sosial, serta kemuliaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, ia tidak hanya menyinggung moral individu, tetapi juga fondasi kepercayaan dalam kehidupan sosial.

Ketika ia berbicara tentang keadilan, ia tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga tentang keseimbangan dalam tatanan masyarakat.

Sejarah Islam sendiri menjadi bukti bagaimana Al-Qur’an mampu mengubah wajah sebuah masyarakat.

Bangsa Arab yang sebelumnya hidup dalam fragmentasi suku, konflik, dan ketimpangan moral, berubah menjadi masyarakat yang melahirkan peradaban besar.

Perubahan itu tidak terjadi semata-mata karena kekuatan politik atau militer, tetapi karena wahyu benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Al-Qur’an dibaca, dipahami, direnungkan, dan diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana menghidupkan kembali Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat kita hari ini?

Jawaban paling jujur sebenarnya sederhana, tetapi sering terabaikan yakni memulai dari rumah kita sendiri.

Rumah adalah ruang pertama tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved