Nilai TKA SD dan SMP Rendah, Pengamat Pendidikan Soroti Krisis Sistemik
Suherdiyanto, menyoroti capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SD dan SMP
Penulis: Peggy Dania | Editor: Maudy Asri Gita Utami
Ia mengungkapkan, sekolah dan orang tua perlu membangun kesadaran etika digital secara berkelanjutan agar peserta didik memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan di ruang digital.
“Peserta didik perlu memahami secara mendalam konsekuensi sosial yang luas dari setiap perilaku, unggahan, atau interaksi yang mereka tampilkan di ruang publik digital,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Suherdiyanto menilai penyelesaian persoalan di dunia pendidikan harus lebih mengedepankan pendekatan edukatif dibandingkan sekadar hukuman.
“Setiap insiden atau persoalan yang muncul, betapapun kecil atau besarnya, harus dilihat sebagai momentum berharga untuk pembelajaran bersama. Pendidikan tidak boleh kehilangan fungsi utamanya sebagai pembina,” paparnya.
Ia menambahkan, ketegasan memang diperlukan untuk menjaga disiplin namun pembinaan yang humanis dan berkelanjutan tetap harus menjadi prioritas.
Suherdiyanto mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dapat diukur dari hasil ujian atau kecerdasan intelektual semata.
“Kualitas pendidikan sejati tidak hanya dapat diukur dari parameter kecerdasan intelektual semata atau dari hasil ujian yang gemilang. Lebih dari itu, kualitas pendidikan yang sesungguhnya tercermin dari kemampuan kita sebagai masyarakat dan sistem pendidikan untuk membangun generasi yang memiliki karakter yang kokoh, etika yang luhur, dan kesadaran sosial yang mendalam,” pungkasnya.
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
- Ikuti Instagram Tribun Pontianak IG TRIBUN
nilai TKA rendah
Tes Kemampuan Akademik
Pendidikan Indonesia
Suherdiyanto
Universitas PGRI Pontianak
literasi digital siswa
Pengamat Pendidikan
evaluasi pendidikan nasional
| Mekanisme Terbaru SPMB SMP Surabaya 2026, Ini Skema Penilaian, Kuota dan Jadwal Lengkapnya |
|
|---|
| Update Kurikulum Nasional 2026 Resmi Berlaku, Ini 5 Perubahan Besar yang Wajib Diketahui |
|
|---|
| Nasib Guru Non-ASN di Ujung Tanduk? PGRI Kalbar Minta Solusi Permanen dari Pemerintah |
|
|---|
| Nasib Guru Non-ASN Dipertanyakan, PGRI Kalbar Minta Kepastian |
|
|---|
| Sepatu Kekecilan yang Merenggut Nyawa: Kisah Pilu Siswa SMK di Samarinda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/wakil-rektor-1-warek-ikip-pgri-pontianak-suherdiyanto.jpg)