Sulit Diprediksi, Data Kecepatan Angin Akibat Garis Badai Hantam Wilayah Kalbar

Angin kencang  pada malam hari pada 29 Mei 2026 disebabkan gugusan awan cumulonimbus. Terpantau gugusan awan memanjang dari utara

Tayang:
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Safruddin
TRIBUN PONTIANAK/TRI PANDITO WIBOWO
GARIS BADAI - Fenomena squall line atau garis badai baru saja melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Jumat 29 Mei 2026. BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan akibat potensi cuaca ekstrem. 

Ringkasan Berita:
  • Pada malam hari tanggal 29 Mei 2026 terjadi cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Kalbar
  • BMKG menyebut akibat gugusan awan cumulonimbus yang memanjang dari arah laut menuju daratan pesisir 
  • Bergerak secarat serentak sehingga menimbulkan fenomena squall line atau garis badai

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Wilayah Kalimantan Barat baru saja dilanda cuaca ekstrem squall line (garis badai).

Sejumlah stasiun meteorologi di Kalbar mencatat kecepatan angin yang berbeda-beda.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kecepatan angin kencang tercatat di beberapa wilayah.

Stasiun Meteorologi Singkawang mencatat kecepatan angin 30 knot atau 56 km  per jam.

Pos Meteorologi wilayah Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas mencatat 26 knot atau 48 km per jam.

Di Stasiun Klimatologi Mempawah atau di Kabupaten Mempawah tercatat 25 knot atau 46 km per jam.

Sedangkan Stasiun Meteorologi Tebelian, Sintang atau di Kabupaten Sintang tercatat 25 knot atau 46 km per jam.

Pihak BMKG Supadio Pontianak menjelaskan penyebab angin kencang yang terjadi malam hari pada Jumat 29 Mei 2026.

Forecaster Prakirawan BMKG Supadio Pontianak, Fitri Doyo, menjelaskan fenomena tersebut dipicu oleh gugusan awan cumulonimbus.

Awan bergerak dari arah laut menuju daratan pesisir barat Kalimantan Barat.

"Angin kencang  pada malam hari 29 Mei 2026 disebabkan gugusan awan cumulonimbus. Terpantau gugusan awan memanjang dari utara (Kabupaten Sambas) hingga ke selatan (Kabupaten Kubu Raya)," kata Fitri Doyo saat dikonfirmasi reporter tribunpontianak.co.id, Sabtu 30 Mei 2026.

Baca juga: Cuaca Besok 1 Juni 2026 di 38 Provinsi Indonesia! Waspada Cuaca Ekstrem di Jawa dan Sumatera

Fitri menjelaskan, pergerakan awan terjadi secara serentak dan berpotensi memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat atau petir, serta angin kencang.

Ini kemudian yang dikenal dengan istilah squall line atau garis badai.

"Bergerak secara serentak yang berpotensi memicu terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat/petir dan angin kencang. Fenomena ini dikenal dengan nama squall line," katanya.

BMKG sebelumnya telah memprakirakan adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang berdurasi singkat yang terjadi pada siang hingga sore hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved