Nilai TKA SD dan SMP Rendah, Pengamat Pendidikan Soroti Krisis Sistemik

Suherdiyanto, menyoroti capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SD dan SMP

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANGGITA PUTRI
PENGAMAT- Pengamat pendidikan sekaligus Wakil Rektor II Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto, menyoroti capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SD dan SMP, dengan nilai rata-rata Matematika 40 dan Bahasa Indonesia 60, tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri.  

Ringkasan Berita:
  • Menurut Suherdiyanto, persoalan tersebut meliputi krisis keteladanan, arah pembinaan karakter yang dinilai kehilangan fokus, serta ekosistem pendidikan yang belum sepenuhnya humanis dan suportif.
  • Ia mengatakan fenomena ini bukan sekadar insiden sesaat melainkan cerminan dari kegagalan kolektif yang perlu kita renungkan bersama.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Pengamat pendidikan sekaligus Wakil Rektor II Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto, menyoroti capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SD dan SMP, dengan nilai rata-rata Matematika 40 dan Bahasa Indonesia 60, tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri. 

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan gambaran dari berbagai persoalan mendasar dalam dunia pendidikan.

“Sebagai seorang pengamat yang telah berkecimpung lama dalam dinamika pendidikan di Indonesia, saya mengamati dengan seksama dan prihatin bahwa pemberitaan mengenai ‘jebloknya TKA’ tidak dapat dipandang sebagai kasus tunggal atau terisolasi. Ini adalah manifestasi nyata dari persoalan yang jauh lebih fundamental dan mengakar dalam sistem pendidikan kita saat ini,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Sabtu 30 Mei 2026.

Menurut Suherdiyanto, persoalan tersebut meliputi krisis keteladanan, arah pembinaan karakter yang dinilai kehilangan fokus, serta ekosistem pendidikan yang belum sepenuhnya humanis dan suportif.

Ia mengatakan fenomena ini bukan sekadar insiden sesaat melainkan cerminan dari kegagalan kolektif yang perlu kita renungkan bersama.

Ia menjelaskan, pendidikan pada hakikatnya memiliki tujuan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar mengejar capaian akademik yang diukur melalui angka atau memenuhi formalitas administratif.

5 Senjata Tradisional Kalimantan Barat dan Filosofi di Baliknya

“Pendidikan harus berfungsi sebagai medium utama untuk membentuk kepribadian yang utuh, menanamkan nilai-nilai etika yang kokoh, membangun kedisiplinan diri, serta mengasah kemampuan peserta didik agar mereka mampu menghadapi realitas sosial yang kompleks dengan sikap yang dewasa dan penuh martabat,” ucapnya.

Karena itu, ketika muncul fenomena rendahnya capaian akademik, evaluasi tidak boleh hanya berfokus pada individu semata melainkan juga perlu meninjau sistem pembinaan yang berjalan di lingkungan pendidikan maupun sosial.

“Kita harus berani melangkah lebih jauh untuk menilik dan mengevaluasi secara mendalam seluruh sistem pembinaan yang berlaku, baik di lingkungan pendidikan formal seperti sekolah maupun dalam konteks sosial yang lebih luas di mana peserta didik tumbuh dan berkembang,” katanya.

Pendidikan Karakter

Suherdiyanto menilai terdapat tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Pertama adalah penguatan pendidikan karakter.

“Pendidikan karakter tidak boleh lagi hanya menjadi sebuah slogan indah yang digaungkan dalam upacara-upacara seremonial atau sekadar mata pelajaran tambahan yang kurang mendapatkan bobot. Ini harus menjadi nafas utama dari seluruh proses pendidikan,” jelasnya.

Ia menilai sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun karakter peserta didik. 

Ia menegaskan keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak serta lingkungan sosial yang lebih luas harus berjalan beriringan dan bersinergi secara konsisten untuk membangun budaya saling menghormati, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta mengasah empati peserta didik.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya literasi digital dan pengawasan sosial yang konstruktif di era media sosial.

“Generasi muda saat ini tumbuh dan hidup dalam ruang digital yang sangat luas dan nyaris tanpa batas, di mana setiap gerak-gerik, setiap ujaran, bahkan setiap ekspresi emosi dapat dengan cepat tersebar dan menjadi konsumsi publik,” tuturnya.

Harga Plastik di Pasar Flamboyan Pontianak Mulai Turun, Pedagang Sebut Stok Berangsur Normal

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved