BI Rate Naik 0,25 Persen Pengamat Ekonomi Kalbar Eddy Suratman Ingatkan Potensi Risiko NPL Perbankan

Kendati efektif menjaga stabilitas rupiah, Guru Besar Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) ini mengingatkan bahwa kebijakan ini bak pisau

Tayang:
Penulis: Anggita Putri | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FILE
BI RATE - Pengamat Ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar), Eddy Suratman. Ia menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 0,25 persen merupakan langkah taktis yang terpaksa diambil demi meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Ringkasan Berita:
  • Menurut Eddy, kebijakan moneter ini sengaja digulirkan untuk mendongkrak daya tarik masyarakat agar tetap menyimpan dana segar mereka di dalam negeri dalam bentuk rupiah, ketimbang mengalihkan aset ke mata uang dolar AS.
  • Kendati efektif menjaga stabilitas rupiah, Guru Besar Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) ini mengingatkan bahwa kebijakan ini bak pisau bermata dua.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar), Eddy Suratman, menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 0,25 persen merupakan langkah taktis yang terpaksa diambil demi meredam pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Eddy, kebijakan moneter ini sengaja digulirkan untuk mendongkrak daya tarik masyarakat agar tetap menyimpan dana segar mereka di dalam negeri dalam bentuk rupiah, ketimbang mengalihkan aset ke mata uang dolar AS.

“Kenaikan BI Rate ini sebenarnya pilihan yang terpaksa. Tujuannya agar masyarakat lebih tertarik menyimpan uangnya di perbankan karena suku bunganya lebih menarik, sehingga tidak terus-menerus membeli dolar yang dapat menekan nilai tukar rupiah,” ujar Eddy Suratman, Rabu 10 Juni 2026.

Sisi Dilematis: Biaya Investasi Menjadi Lebih Mahal

Kendati efektif menjaga stabilitas rupiah, Guru Besar Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) ini mengingatkan bahwa kebijakan ini bak pisau bermata dua. 

Kenaikan BI Rate secara otomatis akan memicu perbankan untuk menyesuaikan suku bunga kredit mereka.

Dampak domino yang paling dikhawatirkan adalah membengkaknya biaya investasi, yang berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi makro.

Tanpa Pengumuman! Warga Pontianak Terkejut Harga Pertamax Meroket, Kini Pilih Pertalite

“Kalau BI Rate naik, biaya investasi juga ikut meningkat. Yang kita khawatirkan adalah volume investasi menjadi menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional bisa tertekan dan melambat,” paparnya secara lugas.

Perlambatan di sektor investasi ini, lanjut Eddy, berpotensi merembet pada berkurangnya penciptaan lapangan kerja baru, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan angka pengangguran.

Masih Moderat dan Tidak Mengejutkan Industri Perbankan

Meski menyimpan risiko, Eddy menilai keputusan BI kali ini tergolong sangat terukur dan penuh kehati-hatian. 

Angka kenaikan yang dipatok dinilai tidak akan sampai menimbulkan guncangan hebat di sektor industri keuangan.

“Saya sebelumnya memperkirakan kenaikannya bisa menyentuh angka 0,5 persen. Tetapi ternyata hanya 0,25 persen, sehingga menurut saya ini masih relatif moderat dan tidak terlalu mengejutkan bagi perbankan. Mudah-mudahan juga tidak terlalu memberatkan biaya investasi,” jelasnya.

Waspadai Lonjakan Kredit Macet (NPL)

Di sisi lain, Eddy memberikan catatan merah yang wajib diwaspadai oleh perbankan di Kalimantan Barat, yakni potensi merangkaknya angka kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).

Sebab, penyesuaian suku bunga ini dipastikan akan menyasar seluruh lini pinjaman masyarakat, mulai dari sektor konsumtif hingga produktif.

Beberapa jenis kredit yang berpotensi terdampak langsung di antaranya:

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved