Kini Pasien Jantung Bawaan di Kalbar Bisa Ditangani di RSUD dr Soedarso

faktanya, kelainan jantung juga dapat dialami sejak bayi lahir melalui kondisi yang dikenal sebagai penyakit jantung bawaan.

Tayang:
Penulis: Anggita Putri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Anggita Putri
BERIKAN PENJELASAN - Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Jantung Anak RSUD dr. Soedarso Pontianak, Anindia Wardhani saat menjadi narasumber Posdcast Bingke Sudarso x Tribun Pontianak, Rabu 20 Mei 2026.  

“Kalau ada gejala seperti itu minimal diperiksa rontgen, lalu dilakukan pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Sementara pada pasien dewasa, kasus sering baru diketahui saat hamil atau ketika muncul keluhan sesak napas dan cepat lelah.

Untuk proses skrining, pemeriksaan awal dapat dilakukan melalui foto rontgen dan USG jantung atau ekokardiografi. Jika ditemukan dugaan penyakit jantung bawaan, pasien akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih spesifik.

Menurut Dr. Anindia, penanganan sejak dini menjadi kunci utama agar komplikasi dapat dicegah.

“Semakin cepat ditangani, hasilnya semakin baik dan risiko kerusakan jantung bisa ditekan,” ujarnya.

Ia menegaskan penyakit jantung bawaan bukan akhir dari segalanya. Banyak pasien yang berhasil menjalani operasi dan tetap dapat hidup normal bahkan berprestasi.

“Ada pasien yang sudah operasi berkali-kali, sekarang bisa sekolah tinggi bahkan menjadi dokter,” katanya.

Kabar baiknya, layanan penanganan penyakit jantung bawaan di Kalbar kini terus berkembang di RSUD dr. Soedarso.

Untuk pertama kalinya, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalbar itu berhasil melakukan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa operasi terbuka melalui metode PDA Device Closure dan ASD Device Closure.

Tindakan tersebut pertama kalinya telah dilakukan dalam kegiatan proctorship bersama tim dokter dari RSJPD Harapan Kita pada 8–9 Mei 2026.

Jika sebelumnya pasien jantung bawaan harus dirujuk ke luar daerah, kini sebagian tindakan sudah dapat dilakukan langsung di Pontianak dengan metode minimal invasif.

“Kalau dulu pasien harus operasi besar, sekarang cukup melalui pembuluh darah di paha,” jelas Dr. Anindia.

Prosedur itu dinilai lebih aman dengan masa pemulihan yang jauh lebih cepat. Tindakan berlangsung sekitar satu hingga dua jam dengan bius total, dan pasien dapat pulang dalam waktu singkat.

“Dari enam pasien yang kami tangani, hasil evaluasinya semuanya baik,” ujarnya.

Data RSUD dr. Soedarso mencatat, sejak Agustus 2025 hingga Mei 2026 terdapat sekitar 800 kunjungan pasien jantung bawaan ke poli jantung. Bahkan rata-rata setiap minggu terdapat tujuh pasien yang harus dirujuk keluar daerah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved