Peternak Sapi di Pontianak Optimistis Jelang Idul Adha, Harga Naik hingga Rp2 Juta per Ekor

Peternak sapi lokal, Moh. Syafi’i (46), terus mengembangkan usaha peternakannya yang telah dirintis sejak 2008.

Tayang:
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Try Juliansyah
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA/Ayu Nadila
TERNAK SAPI - Peternak sapi lokal, Moh. Syafi’i (46) saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, di Jl Purnama Gang Purnama Sejahtera 1, Kamis 14 Mei 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Ia menuturkan, usaha ternak sapi yang dijalankan selama ini menjadi bentuk tabungan jangka panjang, meski masih tergolong sebagai pekerjaan sampingan.
  • Saat ini, di kandangnya terdapat 24 ekor sapi, namun sebagian besar sudah dipesan oleh pembeli. Tersisa lima ekor yang masih tersedia untuk dijual.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK - Peternak sapi lokal, Moh. Syafi’i (46), terus mengembangkan usaha peternakannya yang telah dirintis sejak 2008. 

Dari kandang sederhana, kini usahanya berkembang dengan jumlah ternak yang semakin bertambah.

"Sebenernya beternak sapi ini sudah lama dari tahun 2008. Dari kandang kecil, sekarang alhamdulillah sampai kandang sudah agak besar," ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, di Jl Purnama Gang Purnama Sejahtera 1, Kamis 14 Mei 2026.

Ia menuturkan, usaha ternak sapi yang dijalankan selama ini menjadi bentuk tabungan jangka panjang, meski masih tergolong sebagai pekerjaan sampingan.

"Ibarat memelihara sapi ini kita jadikan tabungan, memang hasilnya kecil cuman dalam setahun sehari-hari adalah kerjaan sampingan," katanya.

Saat ini, di kandangnya terdapat 24 ekor sapi, namun sebagian besar sudah dipesan oleh pembeli. Tersisa lima ekor yang masih tersedia untuk dijual.

"Untuk sementaranya ada 24 ekor dikandang ini, udah punya orang sebagian, sisa 5 ekor lagi. Jadi yang pengen minat tuh buruan nih, sisa 5 ekor lagi," ungkapnya.

Dari sisi harga, Syafi’i menyebutkan bahwa sapi yang dijual dibanderol mulai dari Rp23 juta ke atas, tergantung kondisi dan ukuran.

"Dari harga kita, nego ditempat ya, dari harga 23 juta ke atas, yang layak seperti itu," jelasnya.

Menjelang hari besar keagamaan seperti Idulfitri dan Iduladha, ia biasanya juga menjual daging sapi di Pasar Kemuning.

"Kalau mau dekat lebaran saya biasa nyambut puasa, lebaran Idulfitri, lebaran Iduladha, kita nyiapkan dagingnya di Pasar Kemuning, di halaman parkiran," tuturnya.

Dalam hal perawatan, ia mengandalkan pakan alami tanpa campuran tambahan seperti konsentrat atau ampas tahu.

"Untuk perawatan sapi itu tergantung dari pakan juga ya, punya saya ini pakan rumput semua, gak ada campuran sama sekali. Biar dagingnya cantik," katanya.

Selain itu, ia juga memberikan ramuan tradisional untuk menjaga stamina ternak.

"Terus dikasi jamu, campur gula merah, pake telur ayam kampung biar segar," tambahnya.

Ia memastikan seluruh sapi dalam kondisi sehat dan layak untuk dijadikan hewan kurban.

Baca juga: JTEKT Stings Tampil Garang di Pontianak, Kunci Tiket Semifinal AVC 2026

"Untuk sapi alhamdulillah sehat semua ini, sehat semua," tegasnya.

Dari segi penjualan, Syafi’i mengaku terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun tidak signifikan.

"Sekarang ini alhamdulillah ada peningkatan lah, tahun kemarin agak down, sekarang ini ada biarpun sikit," ujarnya.

Namun demikian, ia menyebut harga sapi tahun ini mengalami kenaikan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per ekor dibandingkan tahun lalu.

"Untuk saat ini naik sekitar satu juta lima ratus hingga dua juta per ekor," katanya.

Kenaikan harga juga terlihat dari harga daging yang kini mencapai Rp145 ribu per kilogram menjelang hari besar.

"Sekarang ini kalau dekat hari-hari ini bisa seratus empat puluh lima per kilo," jelasnya.

Syafi’i mengatakan sapi yang dipeliharanya merupakan sapi lokal jenis Tenang Kacang yang sudah dalam kondisi gemuk.

"Saya ngambil sapi ini dari Tenang Kacang sapi lokal, memang udah gemuk," ungkapnya. 

Di sisi lain, ia berharap ke depan usaha peternakan semakin berkembang dan terbebas dari ancaman penyakit hewan, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) yang masih kerap muncul.

"Kadang ada penyakit PMK, mulut dengan kuku itu masih sering timbul. Untuk sementara saya mengandalkan pengobatan seadanya," ungkapnya.

Meski demikian, ia tetap berupaya menjaga kesehatan ternaknya dengan berbagai cara tradisional.

"Alhamdulillah sehat semua," pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved