Dolar Naik, Pengamat Ekonomi Soroti Dampak ke Harga Barang hingga Peluang Ekspor

Andy juga menyoroti membengkaknya beban utang bagi perusahaan maupun negara yang memiliki pinjaman luar negeri dalam bentuk dolar

Tayang:
Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
RUPIAH MELEMAH - Pengamat ekonomi Kalimantan Barat sekaligus Dosen Senior Universitas Tanjungpura serta Wakil Ketua Umum Koordinator Pulau Kalimantan Pengurus Pusat Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia, Andy Kurniawan Bong, menyoroti dampak kenaikan solar non-subsidi terhadap sektor logistik dan harga kebutuhan pokok, Rabu 6 Mei 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Menurut Andy, secara umum kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah telah menyebabkan lonjakan biaya produksi dan inflasi akibat mahalnya harga barang impor.
  • Ia menjelaskan, salah satu dampak negatif yang paling terasa ialah inflasi barang impor atau imported inflation.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat ekonomi Kalimantan Barat sekaligus Dosen Senior Universitas Tanjungpura dan Wakil Ketua Umum Koordinator Pulau Kalimantan Pengurus Pusat Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia, Andy Kurniawan Bong menilai kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah membawa dampak negatif maupun positif bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Andy, secara umum kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah telah menyebabkan lonjakan biaya produksi dan inflasi akibat mahalnya harga barang impor.

“Secara umum kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah (melemahnya rupiah) telah menyebabkan lonjakan biaya produksi dan inflasi akibat mahalnya harga barang impor, namun di sisi lain memberikan keuntungan kompetitif bagi pelaku usaha berorientasi ekspor,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Jumat 15 Mei 2026.

Ia menjelaskan, salah satu dampak negatif yang paling terasa ialah inflasi barang impor atau imported inflation.

“Biaya untuk mendatangkan bahan baku, barang modal, hingga komoditas pangan (seperti gandum dan kedelai) dari luar negeri ke Indonesia menjadi lebih mahal,” katanya.

Nilai Dolar AS dan Ringgit Melonjak, Aktivitas Penukaran Uang di Pontianak Mulai Menurun

Selain itu, tingginya biaya produksi pada akhirnya juga dibebankan kepada konsumen sehingga harga jual produk di dalam negeri ikut melonjak dan menekan daya beli.

Andy juga menyoroti membengkaknya beban utang bagi perusahaan maupun negara yang memiliki pinjaman luar negeri dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

“Perusahaan atau negara yang memiliki utang luar negeri dalam bentuk mata uang dolar harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk melakukan pembayaran cicilan dan bunga,” jelasnya.

Meski demikian, Andy mengatakan kenaika nilai tukar dolar terhadap rupiah juga membawa dampak positif bagi sektor ekspor Indonesia. 

Menurutnya, pendapatan eksportir dalam bentuk dolar akan bernilai lebih tinggi saat dikonversikan ke rupiah. 

Selain itu, produk ekspor Indonesia juga menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global.

Tak hanya itu, sektor pariwisata juga dinilai berpotensi mendapat keuntungan dari kenaikan tersebut. 

“Biaya liburan ke Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan dan devisa negara,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved