Estimasi Rp5 Miliar, Ferry Bardan–Siantan Alami Kerusakan Berat dan Ditutup

Pemerintah Kota Pontianak menghentikan sementara operasional penyeberangan ferry Bardan–Siantan karena kondisi dermaga yang dinilai sudah tidak layak

Penulis: Ayu Nadila | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ayu Nadila
BERIKAN KETERANGAN - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan kerusakan pada dermaga tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal Ramadan. Namun, tingkat kerusakan yang semakin parah membuat operasional akhirnya dihentikan. 
Ringkasan Berita:
  • Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan kerusakan pada dermaga tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal Ramadan. Namun, tingkat kerusakan yang semakin parah membuat operasional akhirnya dihentikan.
  • Ia menambahkan, pemerintah kota telah mengajukan permohonan perbaikan kepada Kementerian Perhubungan. Upaya juga sempat dilakukan dengan meminta pihak investor atau operator ferry untuk melakukan perbaikan, namun terkendala biaya yang sangat besar.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah Kota Pontianak menghentikan sementara operasional penyeberangan ferry Bardan–Siantan karena kondisi dermaga yang dinilai sudah tidak layak dan membahayakan keselamatan pengguna.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan kerusakan pada dermaga tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal Ramadan. Namun, tingkat kerusakan yang semakin parah membuat operasional akhirnya dihentikan.

"Sebenarnya itu di awal Ramadan sudah tidak layak untuk digunakan lagi karena rusaknya cukup berat, dan cukup membahayakan kalau itu dipaksakan, terutama untuk angkutan truk, angkutan berat," ujar Edi, Kamis 2 April 2026.

Ia menambahkan, pemerintah kota telah mengajukan permohonan perbaikan kepada Kementerian Perhubungan. Upaya juga sempat dilakukan dengan meminta pihak investor atau operator ferry untuk melakukan perbaikan, namun terkendala biaya yang sangat besar.

"Ini kita sudah bersurat kepada Kementerian Perhubungan untuk segera diperbaiki. Kemarin kita minta kepada investor, kepada yang mengoperasikan ferry, nah kan dia tidak mampu karena rusaknya berat dan membutuhkan biaya yang sangat besar," jelasnya.

Saat ini, pemerintah masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat terkait jadwal perbaikan. Untuk sementara waktu, operasional ferry dihentikan guna menghindari risiko kecelakaan.

"Nah ini kita masih menunggu jawaban dari kementerian kapan mulai mau dikerjakan. Tapi sementara kita stopkan dulu, daripada nanti ada korban," katanya.

Baca juga: Edi Kamtono Sebut Perbaikan Skala Rp2 hingga 3 Miliar Masih Bisa Diprioritaskan

Penutupan ini memicu keluhan dari masyarakat, terutama terkait potensi kemacetan. Menanggapi hal tersebut, Edi mengakui belum ada alternatif lain selain menggunakan jalur jembatan.

"Ya itu sementara memang tidak ada alternatif lain, harus lewat jembatan untuk sementara ini" ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa estimasi biaya perbaikan mencapai lebih dari Rp5 miliar, bahkan berpotensi lebih tinggi karena kerusakan struktural yang cukup serius.

"Itu kalau kita lihat di atas Rp5 miliar, bisa jadi lebih, lebih besar lagi dari itu. Karena ada konstruksi yang jebol, patah, kan beban ferry itu berat ya, apalagi kalau pas arus kencang," jelasnya.

Lebih lanjut, Edi menegaskan bahwa perbaikan ferry merupakan kewenangan pemerintah pusat. Oleh karena itu, pihaknya berharap pendanaan dapat dialokasikan melalui APBN.

"Tapi karena ini masuk kewenangan pemerintah pusat dan Kementerian Perhubungan, ya kita berharap pakai APBN. Mereka ada dana rutin, ada dana berkala, perbaikan, dan bahkan ada pembangunan," tutupnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved