Pegiat Sejarah Sebut Meriam Karbit Bukan Sekadar Dentuman, Tapi Identitas Pontianak

Tak hanya menjadi hiburan, Meriam Karbit juga berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat, sekaligus penanda waktu berbuka puasa

Penulis: Ayu Nadila | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ayu Nadila
PEGIAT SEJARAH - Pegiat sejarah Ahmad Sofian menyampaikan bahwa tradisi Meriam Karbit merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Kota Pontianak, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan tepian Sungai Kapuas, Minggu 1 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Ia memaparkan, pada masa awal masyarakat memanfaatkan batang kelapa sebagai bahan utama meriam. 
  • Seiring perkembangan zaman dan melimpahnya kayu pada masa maraknya aktivitas logging, bahan pembuatan meriam pun mengalami perubahan.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pegiat sejarah Ahmad Sofian menyampaikan bahwa tradisi Meriam Karbit merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Kota Pontianak, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan tepian Sungai Kapuas.

Menurutnya, Meriam Karbit tidak bisa dipahami hanya dari bentuknya yang kini besar dan menggelegar. Tradisi tersebut lahir melalui perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan sejarah kota.

"Sejarah Meriam Karbit tidak akan terpisah dari sejarah panjang keberadaan Kota Pontianak, khususnya masyarakat tepian Sungai Kapuas. Sebagai tradisi, prosesnya panjang," ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, Minggu 1 Maret 2026.

Ia memaparkan, pada masa awal masyarakat memanfaatkan batang kelapa sebagai bahan utama meriam. 

Seiring perkembangan zaman dan melimpahnya kayu pada masa maraknya aktivitas logging, bahan pembuatan meriam pun mengalami perubahan.

Tak hanya menjadi hiburan, Meriam Karbit juga berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat, sekaligus penanda waktu berbuka puasa dan Hari Raya.

Zulfydar Dorong Harmonisasi Dua Tradisi Jadi Kekuatan Ekonomi Pontianak

Ahmad Sofian menilai tradisi ini sarat nilai kearifan lokal, terutama dalam aspek keberlanjutan bahan baku. Salah satu praktik yang masih dilakukan adalah merendam batang meriam di parit atau tepian Sungai Kapuas agar lebih awet. Ia menyebut, satu batang meriam dapat digunakan selama tiga hingga enam tahun, bahkan lebih.

"Perlu kajian lebih lanjut, apa yang terkandung di parit atau tepian sungai itu sehingga batang meriam bisa lebih tahan dibandingkan jika tidak direndam," katanya.

Dalam buku yang pernah ia tulis mengenai Meriam Karbit, Ahmad Sofian juga menekankan pentingnya keberlanjutan tradisi melalui proses pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi, mulai dari teknik pembuatan hingga cara memainkan meriam.

"Ini ada nilai generositas dan keberlanjutan. Cara memelihara, cara membuat, cara memainkan, semuanya diwariskan," jelasnya.

Ia menegaskan, masyarakat tepian sungai bersama Pemerintah Kota Pontianak memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi tersebut sebagai identitas daerah.

Terkait waktu pelaksanaan Meriam Karbit yang berdekatan dengan perayaan Cap Go Meh, Ahmad Sofian menilai momentum tersebut menjadi kekuatan sosial dan budaya bagi Pontianak.

"Ini menjadi modal sosial dan modal kultural Kota Pontianak. Kota ini beragam dengan tradisi yang berkembang dan harus dijaga bersama, saling melengkapi, saling menghormati," katanya.

Menurutnya, perpaduan dua tradisi besar itu menunjukkan kematangan Pontianak sebagai kota multikultural dalam merawat keberagaman.
Dari sisi teknis, ia menyebut proses pembuatan Meriam Karbit secara prinsip tidak banyak berubah. Perbedaan hanya terletak pada penggunaan alat yang lebih modern.

"Kalau dulu membelah batang menggunakan gergaji manual, sekarang sudah ada senso (chainsaw) sehingga lebih cepat. Selebihnya sama, mulai dari menukil batang, mengangkat dari parit, menyatukan dua bagian, menguras, hingga menyulutnya," ungkapnya. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved