Zulfydar Dorong Harmonisasi Dua Tradisi Jadi Kekuatan Ekonomi Pontianak

Pelaku UMKM, sektor perhotelan, transportasi, hingga pemerintah daerah dinilai perlu menangkap peluang tersebut secara terintegrasi.

Penulis: Ayu Nadila | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ayu Nadila
WAWANCARA - Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Zulfydar Zaidar Mochtar,saat di wawancarai tribunpontianak.co.id, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Minggu 1 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Ia menjelaskan, pertemuan perayaan Cap Go Meh, Meriam Karbit, hingga momentum Lebaran tidak berlangsung setiap tahun, melainkan hanya terjadi dalam periode tertentu.
  • Pelaku UMKM, sektor perhotelan, transportasi, hingga pemerintah daerah dinilai perlu menangkap peluang tersebut secara terintegrasi.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Zulfydar Zaidar Mochtar, menilai pertemuan dua tradisi besar, Cap Go Meh dan Meriam Karbit, yang bertepatan dengan bulan Ramadan merupakan momentum strategis yang jarang terjadi.

Pernyataan itu disampaikannya dalam Talk Show Budaya Dua Tradisi Satu Kota bertajuk "Harmoni Cap Go Meh dan Meriam Karbit di Bulan Ramadan di Kota Pontianak" yang digelar oleh Borneo Journalist Hub. 

Ia menjelaskan, pertemuan perayaan Cap Go Meh, Meriam Karbit, hingga momentum Lebaran tidak berlangsung setiap tahun, melainkan hanya terjadi dalam periode tertentu.

"Momentum ini tidak mungkin datang kembali dalam waktu yang panjang. Dalam tiga tahun ini peluang pertemuan antara Cap Go Meh dan Meriam Karbit atau Lebaran dan Imlek itu bertemu. Ini harus diharmonisasikan dan harus melahirkan ikon baru serta sejarah baru bagi Kota Pontianak," ujarnya saat di wawancarai tribunpontianak.co.id, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Minggu 1  Maret 2026.

Menurutnya, harmonisasi kedua tradisi tersebut tidak hanya bermakna simbolik dari sisi kebudayaan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas. 

Pelaku UMKM, sektor perhotelan, transportasi, hingga pemerintah daerah dinilai perlu menangkap peluang tersebut secara terintegrasi.

Antusias Warga Saksikan Ritual Buka Mata Naga di Pontianak

"Pemerintah tidak bisa sendiri, panitia juga tidak bisa sendiri. Semua pihak harus berkolaborasi karena ini bisa mendatangkan sesuatu yang luar biasa," katanya.

Ia menyebut kondisi keamanan dan kerukunan di Pontianak selama ini sudah terjaga dengan baik. Oleh sebab itu, fokus selanjutnya adalah memastikan momentum budaya tersebut mampu meningkatkan pendapatan daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Zulfydar juga menyinggung pertumbuhan ekonomi di wilayah penyangga seperti Mempawah dan kawasan Kayu Mataram/Kubu Raya yang turut membuka peluang pergerakan ekonomi. 

Sebagai kota jasa dan perdagangan, Pontianak dinilai berpotensi menjadi pusat akomodasi dan aktivitas selama rangkaian perayaan berlangsung.

"Kota Pontianak ini bisa menjadi tempat penginapan dan pusat aktivitas. Maka harus ada sejarah yang dituangkan dalam harmonisasi Cap Go Meh dan Meriam Karbit ini," tegasnya.

Ia menambahkan, tradisi Meriam Karbit merupakan kekhasan yang tidak dimiliki banyak daerah. Di Indonesia hanya beberapa kota yang memiliki tradisi serupa, namun gaungnya dinilai tidak sebesar di Pontianak.

"Meriam Karbit ini kekuatan luar biasa. Di dunia pun mungkin terbatas negaranya, kota-kotanya juga terbatas. Di Indonesia hanya beberapa kota saja, tapi tidak sebesar kita," katanya.

Dalam konteks globalisasi dan dinamika geopolitik dunia, ia menilai stabilitas dan kenyamanan menjadi daya tarik tersendiri. Pontianak yang dikenal aman dan harmonis dinilai memiliki modal kuat untuk menarik kunjungan wisatawan.

"Kalau kondisi nyaman, tenteram, harmonis, orang akan nyaman datang ke Pontianak. Maka seluruh kekuatan di kota ini harus mampu bekerja sama," tegasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved