Menelisik Ritual Adat Perkawinan Dayak Kanayatn
Ritual adat perkawinan Dayak Kanayatn merupakan satu di antara nila-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun oleh para orangtua
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ritual adat perkawinan Dayak Kanayatn merupakan satu di antara nila-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun oleh para orangtua dahulu kepada anak cucuk masyarakat Suku Dayak Kanayatn.
Berbagai kelengkapan adat tersaji dalam piring dan wadah yang diletakkan di atas meja. Disaksikan semua pasang mata yang hadir pada acara adat Pernikahan pasangan Vitalis Perry Tyas dan Veronika Mansunomi di Jl Kebangkitan, Gg Sinar Karya, Minggu (7/8/2016).
Proses awal ritual adat perkawinan dari keluarga Britius Erik dan keluarga Mateus Ayum diawali dengan acara adat nabok Ka Saka Ka Maraga yang bertujuan meminta ijin kepada Jubata bahwa akan digelar ritual adat.
Kemudian ritual dilanjutkan dengan acara adat Maduduk Buah Tangah dengan menggunakan tempayan, ayam, dan kelengkapan lain. Ritual ini memohon perlindungan agar acara dapat berjalan dengan lancar.
“Ini dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh lewat dari pukul 12.00 WIB,” ucap pemimpin ritual, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Sungai Ambawang, Jakarias N kepada Tribun, Minggu (7/8/2016).
Acara selanjutnya, kata Jakarias, ialah acara panganten baradabm. Dimana duduk pasangan pengantin, orangtua kedua belah pihak, picara dan tetua yang ada. Ini disebut buis panganten.
Dalam acara ini ditampilkanlah kelengkapan acara seperti tingkalakng parimatatn, tingkalakng panganten, subak picara, subak pangarabanam, pangantak kampong, pirikng waris. Kemudian dibagilah piring dari pengantin perempuan dan laki-laki.
Lalu penyerahan tingkalakng panganten dan parimatatn oleh kedua belah pihak. Dalam proses ini ada namanya tingkalakng bidan, baru setelah itu penyerahan subak picara dan diberikan juga pangantak kampong.
Setelah menerima tingkalakng panganten, mereka mengelilingi rumah dengan diberikan beras kuning dan mencuci kaki pasangan pengantin agar selamat dan membersihkan dari segala yang jahat.
“Setelah itu diberikanlah nasihat-nasihat oleh tetua yang hadir. Dimulai oleh picara. Setelah itu makan,” jelas Jakarias.
Sore harinya, lanjut Jakarias, dilaksanakan buka lala yang menandakan segala pekerjaan hari dimana ritual dilakukan selesai. Buka lala ini biasa ada acara nyangahatn dengan menggunakan satu ekor ayam.
Mau tahu lebih dalam tentang ritual adat perkawinan Dayak Kanayatn? BACA SELENGKAPNYA DI EDISI CETAK TRIBUN PONTIANAK EDISI BESOK, SENIN (8/8/2016).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kedua-pasangan-pengantin_20160807_202040.jpg)