Ragam Contoh

Kemenkes Ingatkan Ancaman Leptospirosis, Banyak Dialami Warga Pasca Banjir

leptospirosis bahkan dapat menimbulkan komplikasi serius hingga menyebabkan kematian

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
BANJIR ROB - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus penyakit pascabanjir.  

Ringkasan Berita:
  • Beberapa penyakit yang dinilai berisiko meningkat antara lain Demam Berdarah Dengue (DBD) serta leptospirosis, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
  • Beberapa penyakit yang dinilai berisiko meningkat antara lain Demam Berdarah Dengue (DBD) serta leptospirosis, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID-Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera tidak hanya meninggalkan dampak kerusakan infrastruktur dan kerugian material, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. 

Setelah air mulai surut, risiko munculnya berbagai penyakit menular menjadi perhatian utama, terutama bagi warga yang terdampak dan tinggal di lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus penyakit pascabanjir. 

Beberapa penyakit yang dinilai berisiko meningkat antara lain Demam Berdarah Dengue (DBD) serta leptospirosis, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Di antara penyakit tersebut, leptospirosis menjadi salah satu ancaman paling berbahaya. Penyakit ini merupakan infeksi bakteri yang dapat menyerang organ vital seperti ginjal dan hati. 

Dalam kondisi tertentu, leptospirosis bahkan dapat menimbulkan komplikasi serius hingga menyebabkan kematian, terutama apabila penderita terlambat mendapatkan penanganan medis.

Masuk Kolam Sedalam 1,8 Meter, Pelajar SMA Meninggal Tenggelam di Kolam JC Oevang Oeray Pontianak

Apa Itu Leptospirosis?

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. 

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya terdapat dalam urine tikus. Selain tikus, bakteri ini juga dapat dibawa oleh hewan lain seperti anjing, kucing, sapi, maupun babi.

Pada situasi banjir, risiko penularan leptospirosis meningkat secara signifikan. Air banjir dapat menjadi media penyebaran bakteri karena tercampur dengan urine hewan yang terinfeksi, lalu menyebar ke permukiman warga, jalanan, hingga area pengungsian. 

Masyarakat yang beraktivitas di genangan air tanpa perlindungan berpotensi terpapar bakteri tersebut melalui luka terbuka atau selaput lendir.

Selain itu, kondisi lingkungan yang lembap, kotor, dan sanitasi yang terganggu pascabanjir memungkinkan bakteri Leptospira bertahan hidup lebih lama di lingkungan sekitar. Hal inilah yang membuat leptospirosis kerap muncul sebagai penyakit susulan setelah bencana banjir.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap gejala penyakit pascabanjir dan menjaga kebersihan lingkungan, seiring dengan upaya pemulihan pascabencana yang terus dilakukan.

Bagaimana Leptospirosis Bisa Menular?

Penularan leptospirosis dapat terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui:

Luka pada kulit, termasuk luka kecil atau lecet
Kulit yang terendam air dalam waktu lama
Selaput lendir (mata, mulut, hidung)
Makanan dan minuman yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi
Korban banjir yang sering berjalan tanpa alas kaki atau kontak langsung dengan air banjir memiliki risiko paling tinggi.

Gejala Leptospirosis yang Perlu Diwaspadai

Dilansir dari laman CDC, seseorang umumnya mulai mengalami gejala leptospirosis dalam rentang waktu 2 hingga 30 hari setelah terpapar bakteri Leptospira.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved