Bahasa Daerah Mulai Tergerus, Ini Kata Duta Bahasa Kalbar dan Kadisdikbud

penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling menggantikan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Widad Ardina | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUN PONTIANAK/ISTIMEWA
DUTA BAHASA - Rahma Anggit Khairunnisa berhasil meraih prestasi membanggakan sebagai Duta Bahasa Terbaik Provinsi Kalimantan Barat 2026. Ia menilai penguatan dan pelestarian bahasa daerah menjadi hal yang sangat penting dilakukan saat ini, terutama di tengah perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan budaya global. 

Ringkasan Berita:
  • Menurut Rahma, fenomena menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z, mulai terlihat semakin nyata. 
  • Banyak anak muda yang menganggap bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno, tidak modern, dan dianggap tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG- Duta Bahasa Terbaik 1 Kalimantan Barat 2026, Rahma Anggit Khairunnisa, menilai penguatan dan pelestarian bahasa daerah menjadi hal yang sangat penting dilakukan saat ini, terutama di tengah perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan budaya global.

Menurut Rahma, fenomena menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z, mulai terlihat semakin nyata. 

Banyak anak muda yang menganggap bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno, tidak modern, dan dianggap tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

“Fenomena yang terjadi sekarang, terutama di kalangan Gen Z, masih banyak yang menganggap bahasa daerah itu sudah ketinggalan zaman dan tidak keren,” katanya, Jumat 5 Juni 2026.

Ia menilai cara pandang seperti itu perlu segera diubah karena bahasa daerah sejatinya merupakan bagian penting dari identitas budaya dan warisan leluhur yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

Menurutnya, apabila tidak ada upaya serius dalam memperkuat penggunaan bahasa daerah, maka lambat laun keberadaan bahasa lokal akan semakin tergerus dan kehilangan penuturnya.

Zulhas Sederhanakan Regulasi Karbon, Masyarakat Sekitar Hutan Bakal Dapat Manfaat

Rahma mengatakan penguatan bahasa daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan formal, tetapi juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tren yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Karena itu, ia mendorong hadirnya strategi pelestarian yang lebih kreatif, inovatif, dan interaktif agar bahasa daerah tetap terasa relevan serta menarik digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ingin bahasa daerah tetap hidup dan berkembang, tentu harus ada strategi yang lebih kreatif dan interaktif mengikuti tren anak muda saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah menghilangkan stigma negatif terhadap bahasa daerah. 

Menurutnya, selama ini masih ada anggapan bahwa menggunakan bahasa daerah dianggap tidak modern atau kurang bergengsi dibanding bahasa asing maupun bahasa populer lainnya.

Padahal, penggunaan bahasa daerah justru menjadi bentuk kebanggaan terhadap identitas budaya sendiri yang perlu dipertahankan.

Rahma juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun masyarakat sekitar.

“Penggunaan bahasa daerah harus terus dikuatkan, terutama dalam percakapan sehari-hari bersama teman sebaya maupun di lingkungan sekitar,” katanya.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan pentingnya mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas nasional. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved