Nelayan Selakau Menjerit Eceran Solar Mahal, Cerita Edy Yansyah Mengaku Tekor Bila Dipaksa Melaut

Edy menceritakan dirinya sudah mencoba turun melaut dengan modal BBM solar dibeli harga 12 ribu Rupiah per liter namun penghasilan yang

Tayang:
Penulis: Imam Maksum | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
PARA NELAYAN - Sejumlah nelayan di dermaga Selakau, Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Salah satu nelayan Edy Yansyah, mengaku saat ini kondisi nelayan kesulitan mendapatkan BBM solar dengan harga terjangkau. Harga solar eceran saat ini 13-15 Ribu Rupiah bila dipaksakan maka nelayan Selakau merugi, Selasa 5 Mei 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Kondisi itu membuat Edy Yansyah kerap menunda melaut karena penghasilannya tidak menutup modal membeli BBM. Dia mengaku merugi karena solar yang didapat nelayan tinggi.
  • Edy Yansyah mengungkapkan, kondisi harga mahal solar untuk nelayan telah terjadi hampir dua pekan belakangan. Menurut dia, jantung para nelayan adalah solar.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Seorang nelayan pesisir Selakau, Edy Yansyah (51) menceritakan kesulitan mendapat Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar di Selakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Selasa 5 Mei 2025.

Edy Yansyah sudah hampir sepekan terpaksa menunda melaut karena harga BBM solar yang didapatkan nelayan mahal. Harga eceran solar kini 13 ribu bahkan tembus 15 ribu Rupiah per liter.

Kondisi itu membuat Edy Yansyah kerap menunda melaut karena penghasilannya tidak menutup modal membeli BBM. Dia mengaku merugi karena solar yang didapat nelayan tinggi.

"Kondisi sekarang dihadapi nelayan-nelayan sangat sulit, tergantung pada ketersediaan solar, harganya kini mahal," ucap Edy Yansyah, dihubungi melalui telepon, Selasa 5 Mei 2026.

Edy Yansyah mengungkapkan, kondisi harga mahal solar untuk nelayan telah terjadi hampir dua pekan belakangan. Menurut dia, jantung para nelayan adalah solar.

Nelayan Selakau Masih Sulit Dapatkan BBM, HNSI Sambas Dorong Penambahan Kuota dan SPBUN

"Bagi para nelayan, solar itu jantungnya nelayan, solar jantung kami, kondisi saat ini banyak nelayan menunda untuk melaut. Harga solar saat ini tak ada lagi di angka 10 ribu, rata-rata sudah 13 bahkan 15 ribu Rupiah," ungkap Edy, ayah empat anak itu.

Edy menceritakan dirinya sudah mencoba turun melaut dengan modal BBM solar dibeli harga 12 ribu Rupiah per liter namun penghasilan yang didapatkan justru merugi.

"Harga eceran ada yang 12 ribu. Kalau harga di 15 ribu itu sudah pasti tidak bisa melaut, karena itu akan tekor," ungkap Edy, berprofesi nelayan telah 30 tahun lamanya.

Dia menambahkan, bahwa stok BBM dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Selakau hanya bertahan setengah hari. Nelayan hanya mendapatkan beberapa liter tidak cukup untuk berangkat melaut.

"Di SPBUN ada stoknya tetapi hanya bertahan setengah hari saja stoknya, nelayan hanya dapat beberapa liter, kalau dapat bbm itu sedikit hanya cukup satu hari," jelasnya.

Dia mengungkapkan, nelayan berharap pemerintah dapat segera memberikan solusia agar harga BBM untuk nelayan terjangkau minimal harga 10 ribu Rupiah.

"Kalau dipaksa tetap melaut maka akan tekor, karena kalau pemerintah bisa menekan harga di 10 ribu atau 11 ribu masih bisa terkendalikan," tegasnya.

"Dengan keadaan penghasilan laut Selakau saat ini, tapi kalau harganya sampai 12,13, 14 ribu apalagi 15 ribu memang sakit," ucapnya.

Menurut dia, apabila pemerintah belum melakukan langkah untuk menuntaskan kesulitan nelayan maka terpaksa nelayan masih menunda untuk turun melaut.

"Kami cuma bisa menunda dulu. Saat ini kami berharap apakah kondisi ini pemerintah bisa perbaiki atau tidak, karena kelanjutannya belum tahu ini," tegasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved