Walau Dilanda Kemarau, Petani Sambas Slamet Nyalakan Asa Panen Padi

"Saya sehari-hari sebagai petani padi dan hortikultura, beberapa tanaman seperti daun bawang, cabe, terong, tomat dan saya rawat dengan

Penulis: Imam Maksum | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
MELIHAT PADI - Slamet ketika melihat padi miliknya yang sebentar lagi memasuki masa panen di Dusun Batu Bedinding Desa Sungai Toman, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas, Senin 4 Agustus 2025. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Musim kemarau panjang menjadi tantangan besar para petani padi di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sambas, Senin 4 Agustus 2025.

Kemarau membuat sawah kekurangan air. Suhu yang panas membuat padi rentan terhadap kekeringan dan penyakit.

Walaupun demikian bukan berarti menanam padi di musim kemarau mustahil dilakukan. Seperti yang telah dilakukan Slamet, seorang petani Dusun Batu Bedinding.

Slamet yang merupakan warga Dusun Batu Bedinding,.Desa Sungai Toman, Kecamatan Salatiga, Kabupaten Sambas tidak hanya petani padi. Ia juga menanam hortikultura.

"Saya sehari-hari sebagai petani padi dan hortikultura, beberapa tanaman seperti daun bawang, cabe, terong, tomat dan saya rawat dengan baik di saat kemarau panjang melanda," kata Slamet.

Slamet mengungkapkan, saat ini memang banyak petani lain yang terancam gagal panen karena kemarau panjang. Namun padi dan hortikultura miliknya masih mendapat hasil maksimal.

"Padi di sekeliling banyak yang gagal panen, diakibatkan kemarau dan tidak memiliki serapan air yang cukup, tetapi hasil yang saya tanam masih bisa mendapatkan hasil yang maksimal," ungkapnya.

Wabup Sambas Heroaldi Teken Nota Kesepahaman KUPA PPAS APBD Perubahan 2025

"Banyak petani padi yang hasil panennya jauh menurun dan ada juga yang gagal panen, karena cuaca yang sangat panas, sehingga pertumbuhan padi yang tidak maksimal, tetapi padi milik saya bisa panen dengan baik," kata Slamet menambahkan.

Slamet yang juga petani dampingan Lazismu Kalimantan Barat bilang, upaya yang dilakukan untuk menggenjot hasil maksimal di masa kemarau berkepanjangan adalah dengan melakukan pompanisasi, mensuplai air dari sungai ke ke lahan pertanian.

“Saya memang memaksimalkan lahan pertanian saya ketika kemarau, melakukan pompanisasi atau menyedot air menggunakan mesin pompa untuk dialiri ke lahan pertanian  saya, bahkan seminggu sekali dilakukan penyedotan air ke lahan padi saya," tutur Slamet.

Dia bilang, hasil padi yang ia panen dalam luasan 1 petak lahan dapat mencapai lebih 1 ton. Jika 1 hektar hasilnya dapat tembus di 7-8 ton gabah. Kunci keberhasilan itu, kata Slamet, tersedianya debit air yang cukup.

“Untuk perbandingan hasil panen padi sudah bisa dipanen, di luasan seperempat borong bisa mendapat 300 kg, kalau dihitung borong maka 1 borong bisa 1 ton lebih, atau per hektarnya itu di angka 7-8 ton, dengan hasil seperti itu maka harus memaksimalkan debit air yang cukup ke lahan,” katanya.

Slamet berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk dapat menggenjot kegiatan normalisasi sungai dan pipanisasi.

"Dengan dukungan tersebut, maka menjadi solusi buat petani ketika dilanda kemarau yang panjang, banyak gagal panen karena normalisasi parit atau sungai dan pipanisasi belum teraliri dengan baik, dan itu harapan besar petani," harapnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved