Cegah Stunting, Antam Gelar Bedah Buku dan Sosialisasi Dampak Pernikahan Dini

Minimnya pengetahuan anak muda saat ini menjadikan perkawinan adat hanya sebagai ikatan yang sah untuk menjalin hubungan suami-istri. 

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
BEDAH BUKU - Suasana Bedah Buku Mitologi Perkawinan dalam Perspektif Masyarakat Adat Dayak Tobag di Aula SMA Yakota Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, kemarin. Antam. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Sebagai bagian dari program Generasi Sehat dimulai dari Masyarakat (Gen Sehat), PT Antam Tbk UBPB Kalimantan Barat kembali menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan stunting. 

Kali ini Antam melakukan agenda Bedah Buku Mitologi Perkawinan dalam Perspektif Masyarakat Adat Dayak Tobag di Aula SMA Yakota Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, kemarin. 

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi agenda sosialisasi dampak pernikahan dini di masyarakat Tayan Hilir dan Toba. 

Dengan mengundang penulis sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Salfisius Eko dan tim, agenda ini membedah perspektif perkawinan pada masyarakat adat dayak. 

Bahwa esensi perkawinan dalam suku adat dayak sangat suci, karena merepresentasikan ikatan suci dunia atas dan dunia bawah. 

Dalam masyarakat Suku Adat Dayak, penting mempertimbangkan kesiapan ekonomi, sosial, budaya dan agama. 

Minimnya pengetahuan anak muda saat ini menjadikan perkawinan adat hanya sebagai ikatan yang sah untuk menjalin hubungan suami-istri. 

Turun ke Lokasi Banjir Kecamatan Beduai, BPBD Sanggau: Ketinggian Air Capai 1 Meter Lebih

Tidak heran, karena terbatasnya pengetahuan yang dimiliki alhasil berdampak pada kualitas kesehatan ibu hamil dan juga anak yang dilahirkan. 

“Perkawinan bagi masyarakat adat dayak adalah suatu ikatan yang suci dan sakral. Jangan dianggap, hal ini hanya menjadi cara lain untuk menghalalkan hubungan yang bertentangan dengan norma, namun ada beban moral dan tanggung jawab yang besar. Untuk itu, penting sekali memahamkan para pihak agar praktik pernikahan dini di kalangan masyarakat adat dayak tidak terjadi lagi," kata Salfisius Eko dalam paparannya.

Dalam kegiatan ini, hadir siswa-siswi dari lima sekolah di Tayan Hilir tingkat SMP dan SMA/SMK yang berasal dari SMAN 1 Tayan Hilir, SMK Cahaya Harapan, SMA Yakota, SMPN 1 Tayan Hilir, SMP Cahaya Harapan, dengan total sebanyak 220 orang. 

Para peserta yang hadir 100 persen adalah masyarakat suku adat dayak, dan didominasi oleh masyarakat suku dayak Tobag. 

Para siswa/siswi yang mengikuti kegiatan ini sangat antusias karena, mereka baru kali ini mendapatkan sesi sosialisasi yang serupa. 

“Hari ini kami telah mengikuti agenda bedah buku dan sosialisasi soal dampak pernikahan dini. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan, karena ada kepedulian ANTAM terhadap kualitas kesehatan sehingga harapannya tidak ada lagi stunting. Kami berharap setelah ini bisa belajar lagi lebih banyak perihal bagaimana praktik sosial dan budaya dalam mengatur kehidupan bermasyarakat,” kata satu diantara peserta, Lena.
 
Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Sanggau Anselmus Effendi mengapresiasi penyelenggaraan bedah buku dan sosialisasi dampak pernikahan dini yang dilaksanakan ANTAM. 

“Memang perlu kegiatan seperti itu, karena mengingat perkembangan teknologi saat ini ada kalanya berdampak negatif pada perkembangan siswa/siswi. Dengan adanya kegiatan sosialisasi yang bisa menyentuh ranah adat dan budaya, hal ini menjadi gebrakan baru untuk menjadi upaya yang inovatif dalam mencegah pernikahan dini serta jangka panjang mencegah stunting,” ujarnya.
 
Hadirnya buku “Mitologi Perkawinan Dayak Tobag”, membawa angin segar untuk bisa memahami perspektif budaya dalam menjaga kualitas kesehatan. 

Hal ini selaras dengan komitmen ANTAM dalam mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah sekitar operasi secara holistik. 

“Kami sangat menaruh harapan besar kepada generasi yang ada saat ini, bisa melakukan pertimbangan yang panjang setiap mengambil keputusan, apalagi menikah," kata West Region, CSR dan ER Sub Division Head PT Antam Tbk UBPB Kalimantan Barat, Munadji. 

Menikah tentu bukanlah keputusan yang mudah, maka dari itu persiapan yang matang perlu disiapkan. 

Terlebih, adik-adik semua ini adalah generasi harapan di Tayan dan sekitarnya, yang diharapkan bisa memajukan daerah dan bisa mencapai cita-citanya masing-masing. 

"Untuk itu, besar harapan kami agar setiap pihak mampu mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan dan juga pendidikan anak-anak di Tayan dan sekitarnya," pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved