Ragam Contoh

Dialog Nabi Daud dan Ulat Merah, Pelajaran tentang Ibadah dan Tawakal

Kisah Nabi Daud tentang bertasbihnya ulat merah ini sesuai dengan surat al-Isrâ’ (17): 44 yang berbunyi, langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada

Instagram
CACING MERAH- Suatu hari, Nabi Daud tengah duduk di tempat ibadahnya sambil membaca kitab Zabur. Saat itu, ia melihat seekor ulat merah kecil yang sedang merayap di tanah.  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Imam Al-Ghazali ra. dalam kitabnya Mukâsyafah al-Qulûb al-Muqarrab Ilâ ‘Allâm al-Guyûb menceritakan sebuah kisah tentang Nabi Daud as. 

Suatu hari, Nabi Daud tengah duduk di tempat ibadahnya sambil membaca kitab Zabur. Saat itu, ia melihat seekor ulat merah kecil yang sedang merayap di tanah. 

Dalam hatinya, terlintas pertanyaan, "Apa sebenarnya tujuan Allah menciptakan makhluk seperti ini?"

Allah pun memberi mukjizat kepada ulat merah tersebut dengan kemampuan berbicara. 

Ulat itu lalu menjawab pertanyaan Nabi Daud as. dengan berkata, "Wahai Nabi Allah, keberadaanku di dunia ini bukan tanpa tujuan. Aku diciptakan oleh Allah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya."

Ulat itu melanjutkan, "Setiap hari, aku berzikir sebanyak seribu kali dengan mengucapkan: Sub ānallāh, wal- amdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wa-Allāhu akbar. 

Saat malam tiba, aku tak henti-hentinya bersalawat kepada Nabi Muhammad saw. dengan membaca: 

Allāhumma  alli ‘alā Mu ammad an-nabiyy al-ummiyy wa ‘alā ālihī wa  a bihī wa sallim, juga sebanyak seribu kali, sesuai dengan perintah Allah kepadaku. 

Kisah 10 Perempuan yang Berperan dalam Menyusui Nabi Muhammad SAW, Cocok Jadi Nama Anak Perempuan

Lantas, bagaimana dengan dirimu, wahai Nabi? Apa yang telah engkau baca setiap hari dan malam untuk memuji Allah, hingga engkau mempertanyakan keberadaanku?"

Mendengar ucapan ulat merah tersebut, hati Nabi Daud as. dipenuhi rasa penyesalan. Ia merasa bersalah karena telah mempertanyakan kehendak Allah dalam menciptakan makhluk-makhluk-Nya. 

Dengan penuh ketundukan, Nabi Daud segera bertobat dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, menyadari bahwa setiap ciptaan memiliki tujuan dan tugasnya masing-masing dalam kehidupan.

Kisah Nabi Daud tentang bertasbihnya ulat merah ini sesuai dengan surat al-Isrâ’ (17): 44 yang berbunyi, langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.

Menurut Imam a - hâwî dalam kitabnya,  âsyiyah al-‘Allâmah a - âwî ‘alâ Tafsîr al-Jalâlain, ayat ini memberikan pemahaman bahwa semua makhluk Allah, seperti malaikat, manusia, jin, binatang, tumbuhan, bebatuan, dan benda-benda keras lainnya bertasbih kepadaNya.

Makanya tidak heran ketika Imam Ad-Dîba’î memberikan untaian indah dalam Mawlid ad-Dîba’î bahwa manusia, benda, bebatuan, dan binatang semuanya bertauhid kepada Allah Swt. Bahkan menurut Rumi dalam bukunya, Fihi Ma Fihi: Mengarungi Samudera Kebijaksanaan (2016), orang kafir dan orang beriman, keduanya sama-sama bertasbih.

Dengan kata lain, mereka tidak henti-hentinya beribadah kepada Penciptanya. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka senantiasa begitu mesranya dengan Zat Yang Maha Cinta dan Maha Intim serta Maha Mesra melalui pujian-pujian yang mereka untaikan kepadaNya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved