Lokal Populer
Adanya Dugaan Kasus yang Disebut Dengan Atipikal Progresif Gangguan Ginjal Akut di Kalbar
Satu kasus suspek gagal ginjal akut termasuk atipikal progresif yang ditemukan di Kalbar ini adalah pasien perempuan usia 8 tahun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Hary Agung Tjahyadi menyampaikan telah ditemukan satu kasus suspek Atypical Progressive Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut progresif atipikal pada anak di Kalimantan Barat (Kalbar).
Hary menyampaikan terkait perkembangan meningkatnya kasus gagal ginjal akut termasuk kategori atipikal progresif. Atipikal progresif ini adalah kategori mendadak dan tidak diketahui penyebabnya.
“Kami laporkan ada dugaan kasus yang disebut dengan atipikal progresif gangguan ginjal akut, tapi ini masih dugaan, karena kita belum menegakkan diagnosa akhir,”ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 27 Oktober 2022.
Satu kasus suspek gagal ginjal akut termasuk atipikal progresif yang ditemukan di Kalbar ini adalah pasien perempuan usia 8 tahun, asal Kota Singkawang.
• Pemkot Pontianak Berkomitmen Sukseskan Program Percepatan Penurunan Stunting di Kota Pontianak
Ia menjelaskan adapun riwayat pasien masuk ke RSUD Soedarso pada 25 Oktober 2022, yang merupakan Rujukan dari salah satu RS Swasta di Singkawang.
“Status pasien saat ini dalam perawatan intensif di ruang PICU anak. Yang bersangkutan masih dalam pengawasan dokter spesialis anak,” ungkap Harry.
Dari riwayat penyakitnya diawali dari keluhan riwayat demam, mual, muntah akut, lemah, nyeri bagian perut, ada penurunan kesadaran dan berkurangnya frekuensi dan jumlah air kencing.
“Diagnosa sementara mengarah pada gagal ginjal akut, tapi kita belum menegakkan diagnosa apakah ini gangguan ginjal akut atau gagal ginjal akut yang disebut atipikal progresif tadi,”ujarnya.
Informasi lain yang diterima Diskes Provinsi didapatkan dari daerah asal (Singkawang), yang bersangkutan sebelum dirawat di Rumah Sakit Swasta mulai tanggal 21 Oktober 2022.
Lalu, Dirujuk ke RSUD Soedarso pada 25 oktober karena kondisi pasien tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan dan perbaikan dan adanya penurunan kesadaran.
“Dari informasi tersebut, kami Dinkes melalui tim Penyelidikan Epidemiologi bergerak dengan mengumpulkan data-data baik dari orang tua pasien dan data-data perkembangan pasien selama dirawat di RSUD Soedarso,”ujarnya
Diskes Provinsi juga telah berkoordinasi dengan Diskes Singkawang untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi untuk mendapatkan data-data tambahan yang mendukung penegakkan diagnosa.
Saat ini, dikatakannya juga sedang dilakukan koordinasi antara tim Penyelidikan Epidemiologi dengan dokter penanggungjawab perawatan yakni dokter spesialis anak.
Kemudian telah diambil serum dari darah pasien. Selain itu, mengumpulkan obat-obatan yang digunakan selama pasien dirawat mandiri di rumah.
“Ini kita lakukan sesuai protap penanganan gagal ginjal akut. Ini nanti akan kita kirim ke Puslabfor Jakarta, kemudian kita akan menunggu informasi itu dari Kemenkes, apakah ini kategori atipikal progresif apa tidak. Kalau benar, maka akan kita masukan laporan ke PHEOC,”ujarnya.
Sampai hari ini dikatakannya memang ada beberapa provinsi yang belum melaporkan termasuk Kalbar.
Terhadap sampel yang dikirim, nantinya untuk hasil diagnosa akan diumumkan satu pintu oleh Kemenkes.
“Untuk hasilnya biasa tidak lama. Sampelnya tadi sudah diambil, segera kita proses pengiriman, hanya saja kita mesti mengumpulkan obat-obatan yang digunakan pasien selama dirawat secara mandiri di rumah, karena hari ini baru dilaporkan,” ungkapnya.
Namun dikatakannya, Diskes sudah langsung bergerak dan bekerjasama dengan Dinkes Singkawang agar obat-obatan yang digunakan pasien selama dirawat mandiri di rumah dikumpulkan, untuk segera dikirim.
Temukan Titik Terang
Seperti yang disampaikan oleh Sri Eka Putri warga Pontianak yang memiliki 3 orang anak, mengaku tak begitu panik dengan adanya informasi yang beredar tentang Gagal Ginjal Akut Misterius pada anak.
"Kalo di tanya khawatir atau tidak, tentu setiap orang tua punya tingkat rasa kecemasan masing-masing," katanya kepada tribunpontianak.co.id pada hari Kamis 27 Oktober 2022.
"Kalo saya dan suami merespon berita yg beredar akhir-akhir ini tidak terlalu panik dan tetap mengikuti anjuran dari Kemenkes , yaitu tidak memberikan anak obat sirup yang dibeli bebas untuk sementara ini," tambahnya.
Eka juga mengatakan beberapa waktu terakhir anaknya juga masih dalam kondisi sakit batuk, pilek dan membawa anaknya ke DSA untuk meminta obat yang tepat.
"Kebetulan anak juga masih flu dan batuk, jadi saya dan suami waktu itu ke DSA untuk minta obat yg tepat," katanya.
Ia juga menjelaskan, selama ini sudah menetapkan kepada anak-anaknya untuk rutin minum air putih sesuai kebutuhan.
"Sebelum berita ini beredar saya juga selalu menerapkan kepada anak-anak untuk minum air putih sesuai kebutuhan dan tidak meminum minuman kemasan siap saji karena mengandung pemanis buatan," jelasnya.
Ia juga berharap kepada pemerintah untuk segera menemukan titik terang dari kasus Gagal Ginjal Akut Misterius pada anak tersebut.
"Harapan kepada pemerintah semoga segera menemukan titik terang untuk kasus gagal ginjal akut pada anak ini, setidaknya perketat kerja BPOM , karena sudah selama ini obat sirop tersebut beredar dan kenapa baru sekarang terjadi gagal ginjal akut pada anak," katanya.
Berbeda dengan itu Sinta Irma Wati juga menyampaikan tanggapannya dan mengaku was-was jika anak sakit.
"Sebenarnya sedikit takut sih, takutnya itu kalau anak lagi sakit, jadinya bingung mau kasi obat, sedangkan anak baru berusia 7 bulan, mau tidak mau ya harus sirop," katanya.
Ia juga mengatakan, selama ini sudah mengetahui beberapa jenis obat yang ditarik oleh BPOM dan menjadi tambahan pengetahuan kedepannya.
"Setau saya ada lima jenis obat sirop yang sudah ditarik oleh BPOM, jadi untuk ke depan setidaknya punya gambaran untuk obat sirop yang berbahaya," terangnya.
Dengan adanya kasus Gagal Ginjal Akut Misterius pada anak tersebut, Sinta juga mengaku menjaga kesehatan anaknya dengan baik supaya tak jatuh sakit.
"Kalau untuk mencegah, yang saya lakukan paling ya mengusahakan agar anak tidak sakit, karena kalau sampai sakit jadinya bingung untuk cari obat dan pastinya akan bertanya dengan jelas obat yang aman digunakan," terangnya.
Ia juga berharap pemerintah segera melakukan penelitian agar kasus tersebut segera bisa diatasi dan tak berkepanjangan.
"Harapannya kepemerintahan kalau bisa segera teliti dari mana saja penyebabnya hingga bisa terjadi, selain dari dugaan konsumsi obat sirop itu dari mana saja penyebab jelasnya, agar permasalahan ini bisa segera diatasi bersama," katanya.