HUT 77 Kemerdekaan

Shayla Zhafirah Alawiyah Dipercaya Sebagai Pembawa Baki Upacara 17 Agustus di Kantor Gubernur Kalbar

Siswi 17 tahun kelahiran 2005 ini mengaku tidak menyangka terpilih sebagai pembawa baki pada upacara penurunan bendera merah putih.

Penulis: Muhammad Firdaus | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Tri Pandito Wibowo
Shayla Zhafirah Alawiyah Siswi MAN 1 Pontianak, Petugas Paskibraka Pembawa Baki Upacara Penurunan Bendera di Kantor Gubernur Kalimantan Barat 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Shayla Zhafirah Alawiyah Siswi MAN 1 Pontianak akan menjadi petugas pembawa baki pada upacara penurunan bendera merah putih HUT Ke-77 Republik Indonesia.

Siswi 17 tahun kelahiran 2005 ini mengaku tidak menyangka terpilih sebagai pembawa baki pada upacara penurunan bendera merah putih besok, ia merasa kemampuan dan kelebihan rekan-rekannya yang lain juga sama baiknya.

"Awalnya ndak nyangka, soalnya kan ngeliat kawan pada tinggi-tinggi cantik gitu kan, terus nggak lama kata pelatih kamu dipilih jadi baki itu kayak masih nggak nyangka, tapi senang," ucapnya.

Remisi Kemerdekaan, 10 Warga Binaan Rutan Pontianak Bebas Langsung Tepat 17 Agustus 2022

Ia mengatakan perjalanannya dimulai ketika ia mengikuti organisasi Purna Paskibraka Indonesia di tingkat sekolah.

"Awalnya itukan disuruh sama senior buat ikut PPI, kamu ikut aja PPI, begitu," ucapnya kepada Tribun Pontianak. Selasa, 16 Agustus 2022.

Karena ia mempunyai fisik yang cukup tinggi, ia kemudian disarankan untuk mengikuti seleksi ditingkat Kota Pontianak, meskipun ia sempat merasa pesimis untuk lolos ke tingkat selanjutnya, namun akhirnya ia kini terpilih sebagai Pembawa Baki.

"Gara-gara saya paling tinggi pas di Paskibra sekolah jadi saya di suruh ikut tes PPI tingkat kota, saya ngeliat itu teman-teman pada tinggi-tinggi, fisiknya pada bagus, sudah persiapan jauh-jauh hari, sedangkan saya persiapan baru 2 Minggu sebelum tes, jadi saya sempat insecure juga ngeliat yang lain pada bagus PBB nya, tapi pas pengumuman nama saya paling pertama jadi kayak masih nggak nyangka gitu," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa ia sangat senang bisa berkumpul dengan teman-teman barunya yang berasal dari berbagai daerah di Paskibraka Kalbar ini.

"Paling berkesan itu ketemu sama kawan-kawan yang berbeda daerah, jadi kita belajar bahasa mereka, agama mereka, saling menghargai dan toleransi," ucapnya.

Selama pelatihan dan karantina kurang lebih 20 hari sudah mereka lalui bersama, ia menceritakan bahwa mereka dilatih dengan kedisiplinan yang ketat dan mengikuti semua peraturan.

"Kalau di tempat karantina disiplin waktunya, pagi itu kita dibangunin jam 4, terus sholat subuh persiapan olahraga pagi, mandi makan, lalu latihan sampai siang, ishoma sebentar, pergi lagi jam 2 latihan lagi, pulang ke tempat karantina, jam 9 malam wajib tidur," ucapnya.

Ia mengatakan bahwa salah satu yang berperan dalam penyampaiannya saat ini adalah sang ibu, mengingat ia dulunya sangat ingin bergabung dengan club basket sekolahnya namun ibunya meminta agar ia bergabung di Ekskul Paskibra di Sekolahnya.

"Alhamdulillah orang tua selalu support dari awal, pertama kali kan awalnya gak mau ikut Paskibra tuh, awalnya pengen milih basket, cuman kata orang tua gak apa Paskibra aja, mama mau lihat kamu ngibarin bendera, Alhamdulillah masuk sampai sini," tutupnya.

Ia berpesan kepada rekan-rekannya yang masih duduk di bangku SMA jika ingin menjadi Paskibraka sepertinya untuk menyiapkan fisik dan mental.

"Buat semuanya kalau misalnya kalian pengen masuk Paskibra benar-benar siapkan mental terus fisiknya, terus kalai misalnya gak kepilih jangan langsung bersedih hati mungkin masih ada kesempatan lain atau kegiatan ekskul lain yang bisa diikuti, tapi kalau misalnya keterima, jangan sombong, jangan tinggi hati, tetap bersyukur ke Allah kalau keterima," tutupnya kepada Tribun Pontianak. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved