Pola Hidup Sehat

Long Covid-19 pada Anak Bisa Sebabkan Kondisi Fatal, Rawan Gejala Tanpa Diagnosis Sebelumnya

MIS-C sendiri merupakan sindrom peradangan multisistem pada anak-anak, yang menyebabkan peradangan di berbagai organ tubuh akibat Covid-19.

Photo by Noel Celis / AFP
Seorang petugas kesehatan berbicara dengan seorang anak laki-laki di dalam area perumahan berpagar yang dikunci karena pembatasan virus corona Covid-19 di Beijing pada 26 Mei 2022. - Beijing akan kembali membuka sekolah karena kasus Covid-19 telah surut. (Photo by Noel Celis / AFP) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Para peneliti mencatat kondisi seperti peradangan jantung, penggumpalan darah di paru-paru, atau di kaki bagian bawah, paha, hingga panggul adalah dampak terburuk yang paling umum dirasakan penderita Long Covid-19.

Anak-anak dan remaja dengan Long Covid-19, dua kali lebih berisiko mengalami kondisi yang fatal, dibandingkan dengan orang lain yang tidak pernah terinfeksi virus corona.

Hal itu didapatkan dari studi terbaru yang dipublikasikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pada 4 Agustus 2022 di Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR).

Meskipun risikonya lebih tinggi, mereka mengatakan jumlah kasus secara keseluruhan relatif kecil.

"Banyak dari kondisi ini jarang atau tidak umum di antara anak-anak dalam analisis ini, tetapi peningkatan kecil dalam kondisi ini penting," ujar peneliti dalam studinya seperti dilansir dari WebMD, Kamis 4 Agustus 2022.

Sebagai informasi, Long Covid-19 adalah suatu kondisi di mana gejala infeksi berlangsung selama 4 pekan setelah diagnosis Covid.

Setelah Penurunan Covid-19, WHO Resmi Rilis Definisi Long Covid

Studi Long Covid pada anak masih minim

Sementara itu, salah satu penulis studi, Lyudmyla Kompaniyets, PhD, mengakui sebagian besar penelitian tentang Long Covid hingga saat ini telah dilakukan pada orang dewasa.

Sehingga, hanya sedikit informasi yang tersedia terkait risikonya bagi mereka yang berusia 17 tahun ke bawah.

Maka, untuk mempelajari lebih lanjut, timnya membandingkan gejala dan kondisi pasca Covid-19 pada 781.419 anak-anak dan remaja dengan Covid-19 dengan 2.344.257 anak-anak sehat.

Mereka juga menganalisis klaim medis, serta data laboratorium sejak 1 Maret 2020 hingga 31 Januari 2022, guna mengetahui hal-hal terkait Long Covid-19 pada anak dan remaja di Amerika Serikat.

Hasilnya menunjukkan, dibandingkan dengan anak-anak tanpa riwayat diagnosis positif Covid-19, mereka yang memiliki Long Covid-19 berisiko untuk mengalami kondisi berikut:

  • Emboli paru akut atau bekuan darah di paru-paru (101 persen)
  • Miokarditis yaitu radang otot jantung atau kardiomiopati kondisi ketika jantung melemah dan sulit memompa darah (99 persen)
  • Kejadian tromboemboli vena atau pembekuan darah di vena (87 persen)
  • Gagal ginjal akut (32 persen)
  • Menderita diabetes tipe 1 (23 persen).

APA itu Long Covid? Penyebab dan Dampak yang Diberikan Pada Populasi Manusia?

"Laporan ini menunjukkan fakta bahwa risiko infeksi Covid itu sendiri, baik dalam hal efek akut, MIS-C, maupun efek jangka panjang, adalah nyata, mengkhawatirkan, dan berpotensi sangat serius," kata Stuart Berger, MD, ketua American Academy of Pediatrics Section on Cardiology and Cardiac Surgery.

MIS-C sendiri merupakan sindrom peradangan multisistem pada anak-anak, yang menyebabkan peradangan di berbagai organ tubuh akibat Covid-19.

"Ketika Anda melihat secara khusus komplikasi yang lebih serius dari Covid pada kelompok usia ini, itu adalah komplikasi yang mengubah hidup yang akan memiliki konsekuensi dan konsekuensi sepanjang hidup mereka," terang ahli penyakit menular di Mayo Clinic di Rochester, Gregory Poland, MD.

"Saya akan menganggap ini sebagai peringatan serius bagi orangtua, (pada saat) tingkat imunisasi pada anak-anak yang lebih kecil sangat rendah," sambungnya.

Para peneliti menekankan, bahwa studi ini memiliki setidaknya tujuh keterbatasan, di antaranya adalah penggunaan data klaim medis yang mencatat hasil Long Covid-19, tetapi tidak seberapa parah.

Gejala Long Covid yang Wajib Diwaspadai dan Harus Segera Diperiksa ke Dokter

Selain itu, beberapa peserta dalam kelompok yang tidak pernah mengalami Covid-19 kemungkinan pernah terinfeksi, namun tidak terdiagnosis. Peneliti juga tidak menyesuaikan status vaksinasi.

Poland menambahkan, penelitian ini dilakukan selama lonjakan varian Covid-19 yang disebabkan Delta dan Omicron.

Dengan kata lain, efek Long Covid apa pun terkait dengan varian yang lebih baru seperti BA.5 atau BA.2.75 tidak diketahui.

Kendati demikian, mereka menggarisbawahi temuannya menekankan pentingnya vaksinasi Covid-19 bagi anak berusia di bawah 18 tahun. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved