Diserang Penyakit PMK, Ribuan Sapi Mati dan Dikubur Secara Massal di Jatim

Kuburan massal itu dipilih sebagai salah satu solusi agar penularan dapat ditekan.

Editor: Jamadin
Kompas.com
Petugas menggunakan APD lengkap menguburkan sapi. Di Malang, Jawa Timur banyak sapi yang mati dikarenakan terkena Penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MALANG - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Ribuan ternak sapi di tiga kecamatan di Malang Barat, Kabupaten Malang, Jawa Timur dilaporkan mati. Selain mati, ribuan lainnya juga positif PMK, kondisinya sakit.

Ribuan sapi yang mati itu dikubur bersama-sama dalam kuburan masal di dalam hutan kawasan Dusun Krajan, Desa Pujon Kidul.

Asmawi, Kepala Dusun Krajan menyatakan, lahan tempat kuburan masal tersebut milik Perhutani. Laporan terbaru yang ia terima ada 115 ekor sapi mati di Desa Pujon Kidul.

"Pak Kades, Danramil, Camat, Kapolsek, rapat di kecamatan, akhirnya disepakati dikubur di lahan Perhutani. Kalau ada yang mati lagi, dikubur di situ juga. Di lahan Perhutani ada 35 ekor sapi," ujarnya.

Dipilihnya lahan milik Perhutani itu karena tidak ada lagi lahan milik warga yang bisa dimanfaatkan untuk mengubur sapi, terutama di kawasan Dusun Krajan yang sudah padat penduduk.

Pemkab Kapuas Hulu Harap Masyarakat Tidak Datangkan Ternak yang Suspek PMK

"Kalau di Dusun Krajan, lahannya sempit, di Pedukuhan Maron dan Tulungrejo ini, lahannya luas, akhirnya dikubur di lahannya sendiri-sendiri," ungkapnya.

Berdasarkan data yang diterima Surya (Tribun Jatim Network) dari Pemdes Pujon Kidul, ada 2397 jumlah sapi di Desa Pujon Kidul per 12 Juni 2022.

Dari jumlah itu 1051 dilaporkan sakit, 1220 dilaporkan sehat. 21 ekor sapi dilaporkan dijual.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sodikul Amin, mengungkapkan lambatnya pendataan telah mengakibatkan lambatnya penanganan PMK di KabupatenMalang, khususnya di kawasan Malang Barat yang terdiri atas Kecamatan Pujon, Ngantang dan Kasembon.

Ia tidak menyangkal, ada ribuan ternak sapi yang telah mati. Kuburan massal itu dipilih sebagai salah satu solusi agar penularan dapat ditekan.

Kata Sodikul, proses penguburan sapi mengikuti protokol dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Ada seribu lebih ternak sapi yang mati dari tiga kecamatan tersebut. Matinya ribuan sapi itu mengakibatkan kerugian hingga miliaran Rupiah.

Satu sapi yang produktif dihargai Rp 20 juta. Kata Sodikul, jika seluruh sapi di tiga kecamatan Malang Barat dijumlahkan, maka nilai ekonomisnya bisa mencapai Rp 1 triliun.

"Kami tidak mau saling menyalahkan dalam situasi seperti ini, tapi memang salah satu penyebab utama adalah kesiagaan kami mengendalikan kondisi. Kalau mau dibilang terlambat ya terlambat," ujar Sodikul yang juga warga Kecamatan Pujon.

Sapi-sapi yang mati dari Malang Barat didominasi oleh sapi perah. Saat ini, pendataan sedang dilakukan oleh pihak desa. Pendataan tersebut diharapkan rampung dalam pekan ini.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved