Diserang Penyakit PMK, Ribuan Sapi Mati dan Dikubur Secara Massal di Jatim
Kuburan massal itu dipilih sebagai salah satu solusi agar penularan dapat ditekan.
Tingginya angka kematian sapi di kawasan Malang Barat mengakibatkan turunnya pasukan susu. Sodikul memaparkan, di KOPSAE, koperasi terbesar di Kecamatan Pujon, produksi susu turun sejak tanggal 7 Juni 2022.
Dalam kondisi normal, produksi susu yang dikeluarkan mencapai 114 ton per hari, saat, ada penurunan produksi hingga 40 ton per hari. Sapi produktif menghasilkan 10 hingga 11 liter susu per hari.
"Berdasarkan data sementara ini, masih saya asumsikan berdasarkan penurunan produksi air susu sapi perah, di tiga kecamatan, 80 persen yang terinfeksi adalah sapi perah," terangnya.
Anggaran Penanganan
Pimpinan DPRD Malang bersama Ketua Gugus Tugas PMK Kabupaten, Didik Gatot Subroto dan seluruh kepala desa dari tiga kecamatan Malang Barat melaksanakan rapat yang dilaksanakan di Cafe Sawah. Rapat itu mengusulkan agar ada anggaran untuk penanganan PMK.
Anggaran bersumber dari APBD direkomendasikan senilai Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar. Selain itu, juga ada bantuan dari APBD es senilai hingga Rp 200 juta.
Anggaran tersebut untuk membiayai penanganan PMK di Kabupaten Malang. Penanganannya seperti pemberian vitamin, obat-obatan dan kebutuhan lainnya.
"Anggaran bersumber dari APBD, pada rekening belanja tak terduga, itu akan diberikan ke Dinas Peternakan dan Kesehatan," papar Sodikul.
Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto menampik pihaknya kewalahan dalam mengatasi wabah yang menyerang hewan ternak tersebut. Saat ini pihaknya tengah melakukan perhitungan untuk pengalokasian dana dari belanja tidak terduga (BTT) guna menekan PMK.
Politisi PDI Perjuangan ini berjanji jika pengucuran dana BTT untuk PMK tersebut tak berbelit-belit. Didik mengatakan, saat ini pihaknya masih membutuhkan waktu untuk membahas pencarian dana bagi peternak.
"Saat ini progresnya dalam waktu dua hari ke depan rakor bersama kepala desa dan BPD, Inspektorat, Kejaksaan, pendamping desa untuk memberi membahasnya bersama. Ini penting terkait mekanisme penganggarannya agar tidak berbenturan dengan hukum," beber Didik.
Didik menyoroti masifnya penularan PMK di wilayah Malang Barat. Pria asal Singosari ini prihatin PMK makin merebak di wilayah tersebut.
Katanya, sekitar 75 persen masyarakat di tiga kecamatan itu menggantungkan hidupnya sebagai peternak sapi perah.
Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo menjelaskan kondisi penularan PMK bisa saja terus meroket. Ini diakibatkan lantaran proses pendataan yang terus diperbarui dari lapangan.
"Upaya kami tetap menurunkan petugasnyauntuk melakukan pendampingan secara intensif ke peternak. Pendampingan tersebut untuk mengedukasi peternak bagaimana memberikan treatment kepada ternak yang terpapar PMK," ucap Nurcahyo.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Terkena Penyakit Mulut dan Kuku, Ribuan Sapi Dikubur Massal di Malang Jatim