Strategi Pemasaran Bisnis Properti

Rumah memiliki aspek yang unik, permintaannya mempunyai dua sisi yang didasarkan dua motif yaitu motif konsumsi dan motif investasi

Penulis: Nur Imam Satria | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa/Dok Ocsa Rianty 
Mahasiswa PS-MM Universitas Tanjungpura, Ocsa Rianty  

Oleh Ocsa Rianty 
Mahasiswa PS-MM Universitas Tanjungpura

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG -  Menurut Arrondel (2010) perkembangan bisnis properti di Indonesia mengalami kenaikan yang sangat tajam pada dekade terakhir ini.

Banyak indikator yang dapat dilihat di dalam masyarakat, misalnya dengan banyaknya pembangunan perumahan-perumahan baru termasuk juga apartemen dengan harga yang relatif lebih murah. Perumahan merupakan salah satu sektor properti yang mempunyai prospek yang menarik.

Hal itu disebabkan oleh permintaan rumah yang tidak semata-mata untuk tempat tinggal. Rumah memiliki aspek yang unik, permintaannya mempunyai dua sisi yang didasarkan dua motif yaitu motif konsumsi dan motif investasi

Berdasarkan data Bank Indonesia Survei Harga Properti Residensial (SHPR) tahun 2021 Penjualan properti residensial primer triwulan II-2021 secara tahunan mengalami penurunan.

"Penjualan rumah pada periode tersebut tercatat mengalami kontraksi sebesar -10,01 persen (yoy), menurun dari 13,95 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya, namun lebih baik dari kontraksi -25,60 persen (yoy) pada triwulan 11-2022," jelas Ocsa, Senin 6 Juni 2022.

Seorang Mahasiwa Ketapang Ditemukan Meninggal Dunia Tak Wajar di Kamar Kontrakan di Pontianak

Penurunan volume penjualan pada triwulan II-2021 terjadi pada tipe rumah kecil (-15,40 persen, yoy) dan besar (-12,99 persen, yoy), sedangkan tipe rumah menengah tercatat tumbuh melambat (3,63 persen, yoy).

Responden menyampaikan terhambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, kenaikan harga bahan bangunan (14,65 persen jawaban responden), ii) Masalah perizinan/birokrasi (13,52 persen), iii) Suku bunga KPR (12,69 persen), iv) Proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (11,46 persen), dan v) Perpajakan (10,73 persen).

"Secara triwulanan, penjualan properti residensial triwulan II-2021 juga mengalami kontraksi," ungkapnya.
Penjualan properti residensial primer pada periode tersebut menurun sebesar -13,02 persen (qtq), lebih rendah dari -0,30 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya maupun 10,14 persen (qtq) pada triwulan 11-2020.

Penurunan penjualan rumah terjadi seluruh tipe, terdalam terjadi pada rumah tipe besar.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved