Waspada Ancaman DBD di Musim Hujan, Berikut Cara Mencegahnya
Penyebabnya adalah virus yang dibawa oleh nyamuk itu, menggigit tubuh manusia, maka virusnya akan masuk ke tubuh yang disebut dengan DBD.
Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dokter Muda Pontianak, Eric Herrianto Dwiputra SKed mengajak kepada semua masyarakat untuk bersama-sama mewaspadai penyakit Demam Berdarah (DBD).
Hal tersebut disampaikannya saat bincang sehat di Tribun Pontianak Official Podcast pada Jumat 31 Desember 2021 kemarin dengan tema 'Waspada Ancaman DBD di Musim Hujan'.
Ia menjelaskan, peyakit infeksi virus dengofiver atau demam berdarah merupakan suatu kumpulan penyakit yang disebabkan oleh dengo yang dibawa oleh nyamuk.
Penyebabnya adalah virus yang dibawa oleh nyamuk itu, menggigit tubuh manusia, maka virusnya akan masuk ke tubuh yang disebut dengan DBD.
Untuk itu, demi mencegah hal tersebut kata dokter Eric harus bisa melakukan pencegahan, diantaranya dengan program 3M (menguras, menutup dan mengubur).
Karena nyamuk suka bersarang dan berkembang biak atau bertelur di atas air tawar. Maka bisa dilakukan pengurasan terhadap air tersebut agar nyamuk tidak berkembang biak.
Kemudian, menutup tempat air agar nyamuk tidak masuk lagi.
Selanjutnya adalah mengubur. Hal ini dilakukan seperti mengubur sampah-sampah sisa yang bertumpuk.
• Waspadai DBD Pasca Banjir, Diskes Kalbar Bantu 10 Unit Alat Fogging ke Sintang
Selain itu, dokter Eric juga menyarankan jika dikawasan kita terdapat kawasan yang banyak nyamuk, disarankan agar tidur menggunakan kelambu dan mesin nyamuk atau racun nyamuk.
Tidak sedikit yang terkena DBD ini adalah kalangan anak-anak, hal itu lanjutnya karena tergantung juga pada imunitas tubuh seseorang.
Jika kita lihat memang imunitas tubuh anak-anak jauh lebih lemah dibandingkan dengan imunitas tubuh dewasa. Sehingga anak-anak lebih mudah diserang DBD.
"Jika imun tubuh kuat maka bisa melawannya," katanya.
Untuk itu, ia menyarankan agar orang tua bisa menjaga nutrisi anak diperhatikan agar imunitas tubuh anak kuat.
Ia mengatakan, DBD ini juga bisa tumbuh di daerah iklim tropis. Pada kawasan kita ini kata dia, merupakan iklim lembab sehingga ideal dengan kehidupan mereka para nyamuk.
Adapun risiko bahayanya DBD ini kata dia juga tergantung pada imunitas tubuh seseorang. Namun, jika DBD ini tidak diatasi dengan baik maka bisa mengakibatkan kematian.
Untuk itu, perlu juga diketahui gejala DBD, berikut ia sampaikan:
"Gejala awal DBD ialah seperti flu biasa. Kemudian demam tinggi, sendinya sakit, warning sign yang membedakan DBD dengan demam lainnya, misalnya pasien itu muntah-muntah, mual-mual, perutnya sakit, tiba-tiba keluar darah di gusi atau hidung. Itu warning sign," jelasnya.
Menurutnya, gejala demam awal DBD ini mirip dengan lainnya. Jika sudah masuk di tahap ini. Maka harus segera ambil tindakan dan diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Kendati demikian, bis dibedakan antara demam biasa (demam dengo) dan demam berdarah dengo. Untuk memastikan hal tersebut bisa melihat dari hasil PCR.
Pada DBD ini juga bisa disertai diare, karena menggangu pencernaan, susah makan dan susah minum.
Ia menyebut, bahwa demam berdarah ini ada tiga fase.
Fase pertama adalah demam 1-7 hari, fase kedua kritis 1-2 hari dan fase ketiga Fase recovery (penyembuhan) 1-2 hari.
Pada fase pertama ini biasanya sang anak itu demam tinggi 2-7, nyeri sendi, badan panas, perut sakit.
Kemudian, yang berbahaya kata dia adalah ketika masuk fase kritis, karena akan terjadi pembuluh darah seperti longgar yang bisa terjadi kebocoran yang bisa menyebabkan kelainan paru-paru teredam air dan perut terisi air.
Jika tidak ditangani dengan benar, maka nadi turun, tangan dingin yang bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.
Selanjutnya, jika masa kritis sudah dilewati, maka masuk pada tahap penyembuhan.
"Sering ditemukan karena demam sudah turun orang tua lengah. Maka meskipun demam turun, orang tua harus tetap memperhatikan kondisi anak, jika kondisinya masih lemas, sakit perut, maka harus diperhatikan. Kalau sudah begitu maka periksa ke fasilitas kesehatan. Karena Pemantauan di faskes lebih mudah," terangnya.
Kemudian, jika misalnya ingin dirawat di rumah, maka harus ada tanda tangan persetujuan dari keluarga dan dokter.
Yang terpenting, kata dia, kunci utama adalah konsumsi cairan seperti air putih dan jangan konsumsi minuman soda.
Kemudian untuk mencegah, juga bisa meminum obat parasetamol yang fungsinya selain untuk rasa demam, tapi juga bisa menghilangkan rasa sakit, pegal-pegal. (*)
(Simak berita terbaru dari Pontianak)