Lantik Direktur Akper Dharma Insan, Uskup Tegaskan Misi Pendidikan Katolik Harus Ditangani Serius
Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri segenap pengurus yayasan
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
“Business is NOT as usual! Hal ini diperparah dengan pandemi Covid-19. Tidak ada yang paten lagi. Dahulu kita tidak kenal Zoom. Sekarang semua tahu dan terpaksa harus tahu Zoom. Prediksi ke depan, paling tidak lima tahun ke depan, masalah Covid-19 masih akan menghantui kita. Bukan hanya itu saja, pola yang tercipta dengan pemakaian teknologi di dunia pendidikan sudah mulai memasuki generasi 4.0. disrupsi, kata orang,”ujar RP Johanes Robini Marianto OP.
RP Johanes Robini Marianto OP menambahkan, “Maka kalau kita masih berpikir, sadar atau di bawah sadar, dunia masih seperti 3 tahun yang lalu, kita sudah sangat sangat salah.”
RP Johanes Robini Marianto OP mengatakan, untuk itu inovasi dibutuhkan. Inovasi di dalam kurikulum, metode pengajaran dengan mengikutsertakan teknologi, kebutuhan akan daya saing dengan para kompetitor, dan strategi marketing yang up to date. Kalau tidak ada, maka kita akan menjadi Nokia.
“Pandemi, sekali lagi adalah winter is coming. Maka akan terjadi kompetisi hebat untuk bisa hidup dan kompetisi kali ini bukan lagi dengan kompetitor melainkan dengan kenyataan pandemi dan pasca pandemi. Untuk menjadi inovatif, maka lepaskanlah arogansi masa lalu karena kenyataannya kita sudah jatuh banyak,”kata RP Johanes Robini Marianto OP.
RP Johanes Robini Marianto OP berpesan, pengurus baru harus berani inovasi dan itu dibutuhkan bukan hanya keberanian melainkan kreativitas dan tidak bisa mengandalkan masa lalu.
RP Johanes Robini Marianto OP mengingatkan pengurus agar perlu meredefinisikan masa depan institusi ini yang akan dituju. Untuk itu direvisi statuta yang menekankan visi dan misi baru.
“Pendidikan kalau sekarang hanya mencari pemasukkan atau kasarnya uang, akan gagal. Institusi Pendidikan harus memberikan value (nilai). Nilai ini akan menjadi uang. Value yang benar terletak pada efeknya dirasakan para mahasiswa-mahasiswi, masyarakat pengguna dan tentunya pemerintah daerah. Untuk meningkatkan value mereka harus mulai dengan jaringan atau supply chains dan tentunya merupakan kerja berat tiga periode jabatan para direksi ini,”tegas RP Johanes Robini Marianto OP.
RP Johanes Robini Marianto OP menambahkan, pengurus yang baru harus bisa membuat jaringan (supply chains), inovasi dan kerja keras. Hal ini tentu bukan hanya para direksi, melainkan semua. “Sebenarnya, jujur, tugas direktur adalah jalan-jalan membuka koneksi (connectedness). Kalau direktur selalu di kantor urus administrasi saja, maka Anda semua bukan pemimpin,” kata RP Johanes Robini Marianto OP.
RP Johanes Robini Marianto OP, menambahkan pengurus hanyalah penjaga kandang atau gawang. Para direktur haruslah menjadi leader yang bisa membuat koneksi dengan semua stakeholders untuk menaikkan nilai (value) kedua lembaga ini dan menjadikan kedua lembaga ini mempunyai reputasi. Koneksi yang pengurus bangun harus berbentuk program dan proyek yang bisa mengembangkan kedua lembaga ini.
Pengurus dibantu para wakil direktur dan yayasan tambah lagi sekjen. Itu artinya administrasi sudah ada yang urus. Tugas para direktur adalah bertemu dengan masyarakat, pemda, dan users (pengguna lulusan).
RP Johanes Robini Marianto OP berharap hal ini sungguh dipikirkan dan direnungkan.
Pastor Robini mengharapkan dengan pelantikkan kali ini merupakan awal kebangkitan dari kedua Lembaga yang telah susah payah dirintis para misionaris dalam misi gereja di Borneo.
Tonggal Baru
Sementara itu Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu, Dr Adrianus Asia Sidot, mendukung penuh misi pendidikan yang dimulai oleh Keuskupan Agung Pontianak.
“Ini adalah tonggak baru perkembangan pendidikan di Akademi Perawat Dharma Insan dan Akademi Kebidanan St Benedicta,” kata Dr Adrianus Asia Sidot yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI.
Mantan Bupati Landak dua periode ini berdoa dengan adanya tonggak baru dan sejarah baru ini, apa yang menjadi harapan Uskup Agung Pontianak dan ketua yayasan harus betul diwujudkan, apalagi sekarang di era 4.0, atau barangkali di negara lain sudah 5.0.
“Kita sendiri masih berkutat pada 4.0 yang dimana kita sendiri juga masih belajar untuk menguasai perkembangan tersebut. Untuk itu harapan saya direksi yang baru ini harus responsive dan peka dengan perkembangan dunia yang terjadi. Sebab perubahan tidak bisa kita hindari,” kata Ketua Alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/direksi-dharma-insan.jpg)