Breaking News

Lantik Direktur Akper Dharma Insan, Uskup Tegaskan Misi Pendidikan Katolik Harus Ditangani Serius

Pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St Benedicta dilaksanakan di Gedung Akper dan Akbid yang dihadiri segenap pengurus yayasan

Tayang:
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
IST/Komsos KAP
PELANTIKAN - Suasana pelantikan Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St Benedicta di Gedung Akper dan Akbid oleh Mgr Agustinus Agus, Senin, 22 Juni 2021. 

Mgr Agustinus menambahkan, “Bukan hanya untuk kepentingan umat Katolik saja, apalagi untuk karyawan-karyawan saja tetapi untuk banyak umat dan banyak orang, mohon maaf.”

Uskup Agung Pontianak juga mengutib Gaudium et Spes Nomor 1 dalam salah satu ensiklik yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan ke II dalam tahun 1965. Disitu diebutkan,“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan duka dan kecemasan murid-murid Yesus.”

Mgr Agus menegaskan tidak pernah gereja Katolik hanya memperhatikan kelompoknya. “Ini harap diketahui,” kata Uskup. “Yang paling penting cara orang Katolik berkarya harus didorong dari inspirasi iman katolik itu.

Mgr Agustinus Agus juga mengungkapkan pentingnya belajar teknologi yang ada dewasa ini. “Memang sekarang zamannya kecepatan dan perkembangan teknologi. Maka dari itu pentingnya kita menghayati itu semua dan mempraktikkanya untuk kepentingan banyak orang dan pelayanan,” ujar Mgr Agustinus Agus.

PELANTIKAN - Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, melantik Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St Benedicta di Gedung Akper dan Akbid, Senin, 22 Juni 2021.
PELANTIKAN - Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, melantik Direktur Akper Dharma Insan dan Akbid St Benedicta di Gedung Akper dan Akbid, Senin, 22 Juni 2021. (IST/Komsos KAP)

Inovasi adalah Kunci
Pada kesempatan yang sama, RP Johanes Robini Marianto OP sebagai ketua yayasan mengisahkan tentang brand HP Nokia yang melegenda namun akhirnya perusahannya hilang dan bangkrut.

“Siapa dari kita yang tidak kenal brand HP Nokia? Merk ini melegenda di akhir 1990-an dan tahun 2000-an,” katanya. “Kita semua pasti pernah memegang HP Nokia. Tetapi sekarang, siapakah yang memakai HP merk Nokia? Nokia bahkan dikabarkan bangkrut dan diakuisisi oleh Microsoft di tahun 2013,” ujar biarawan Ordo Dominikan tersebut.

Dikatakan RP Johanes Robini Marianto OP, faktor utama dari awal kehancuran Nokia adalah mulai adanya Apple di tahun 2007 dengan iPhone.

Ia juga mengutib kompas.com, edisi 30 Maret 2021, yang mengatakan ada tiga kesalahan Nokia. yaitu: kualitas teknologi, arogansi manajemen yang tidak mau mendengar dan melihat perubahan, dan lemahnya visi misi.

Ketiga kesalahan ini membuat Nokia tidak bisa inovasi. Inovasi adalah kata kunci untuk perkembangan (kemajuan), mendengarkan pasar, dan kreativitas untuk selalu memunculkan hal baru yang menantang dan canggih. Kegagalan ini membuat Nokia tidak lagi menjadi leading, bahkan jatuh terperosok di teknologi HP dunia.

RP Johanes Robini Marianto OP mengatakan 30 tahun yang lalu semua pasti mengenal Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang kemudian berevolusi menjadi Akademi Keperawatan (Akper) dan Akademi Kebidanan (Akbid).

“Saat itu kita leading industry, kalau boleh dikatakan demikian, di dunia pendidikan keperawatan dan kebidanan. Mungkin saat itu kita satu-satunya yang ada dan masyarakat Kalbar tidak ada pilihan,” ungkap RP Johanes Robini Marianto OP.

“Namun sepuluhan tahun yang lalu mulai muncul Akper/Akbid lainnya di Kota Pontianak atau Kalbar. Mereka bahkan sudah mendahului kita di program studi yang bukan hanya D3, melainkan S1. Itu sudah satu inovasi. Kita belum bicara, dan saya belum tahu juga, bagaimana dosen mereka, tentu ada hubungan dengan rekruitmen dan juga visi-misi mereka serta jaringan yang mereka miliki. Sekarang kita berteriak kurang mahasiswa/mahasiswi. Indikator utama memang angka mahasiswa. Belum lagi isu-isu yang berkembang tentang kita. Saya katakana isu karena bisa benar namun juga bisa tidak,” ujar RP Johanes Robini Marianto OP.

RP Johanes Robini Marianto OP menambahkan, “Kita memang masih punya nama. Yes! Bupati Karolin mengatakan di depan umum dan kepada saya pribadi. Namun banyak yang mengingatnya ini sebagai kejayaan tempo doeloe.”

RP Johanes Robini Marianto OP mengungkapkan bahwa masalah manajemen menjadi besar, secara alam bawah sadar, kita jatuh pada arogansi manajemen yang turut menghancurkan Nokia; yaitu tidak mau mendengar pasar, tidak mau berubah dan adaptasi serta inovasi, dan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu.
“Kita kalau tidak sadar dan terbuka mengakui masalah kita, bukan hanya menyangkal atau denial, saya khawatir kita akan menjadi Nokia baru,” tambahnya.

“Ketika kita melantik direksi-direksi baru, sebagai Ketua Yayasan, saya mengingatkan beberapa hal,” kata RP Johanes Robini Marianto OP yang juga dikenal dengan nama panggilan Romo Robini.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved