Breaking News:

PPKM Mikro Secara Ketat Dimulai, Ahli Epidemiologi Sarankan Tiga Hal Berikut Agar Berjalan Efektif

Menurut studi yang dipublikasikan Qun Li et al (2020), diperlukan upaya serius yang harus pada wilayah-wilayah dengan populasi yang berisiko tinggi un

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Satgas Covid-19 Kota Pontianak memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara ketat selama 14 hari. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes menyampaikan, tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro secara ketat di Pontianak dan Kubu Raya yang diberlakukan selama 14 hari dimulai pada 14 - 27 Juni 2021 kegiatan ini sangat tepat.

Meskipun secara Epidemiologi, dikatakannya langkah tersebut dianggap lambat dan sebagai langkah reaktif setelah kenaikan kasus covid-19 signifikan tercermin dari angka Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat hunian di rumah sakit sudah di atas 80 persen, juga kasus kematian mengalami peningkatan.

Namun demikian ia berharap Keputusan program PPKM sekala mikro ini dapat menurunkan laju peningkatan kasus Covid-19.

Berikut penuturan lengkap yang disampaikan oleh Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes.

Sejalan dengan rekomendasi WHO bahwa penanganan penyakit menular yang efektif dilakukan pada sumbernya, yaitu pembatasan mobilitas penduduk.

Pontianak Berlakukan PPKM Ketat, Mulai Hari Ini Tempat Usaha Wajib Tutup Pukul 21.00

Menurut studi yang dipublikasikan Qun Li et al (2020), diperlukan upaya serius yang harus pada wilayah-wilayah dengan populasi yang berisiko tinggi untuk mengurangi penularan dan pengendalian covid-19.

Beberapa studi yang dilakukan di Tiongkok, Taiwan, dan beberapa negara di Eropa seperti Italia dan Jerman sangat efektif dalam menekan dan memperlambat penyebaran virus SARS-Cov-2. Contoh, seperti simulasi pembatasan parsial yang dilakukan di megacity Shenzhen, Tiongkok, merefleksikan adanya efek potensial dari pembatasan mobilitas manusia dalam pengendalian dan penyebaran covid-19 (Zhou Y et al, 2020).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menjadi strategi pemerintah kabupaten/Kota dalam pelaksanaan PPKM skala mikro, sehingga dapat tercapai tujuannya dengan efektif, diantaranya yaitu:

Pertama, perlu metodologi yang tepat untuk mengukur implementasi PPKM skala mikro. Penggunaan perangkat seperti Google Data (Google LLC, 2020) sangat membantu untuk memonitor seberapa banyak mobilitas orang di lokasi tertentu. Monitor dan deteksi mobilitas juga bisa dipilih pada area-area atau tempat - tempat umum tertentu seperti pusat retail dan rekreasi, pasar tradisional dan perumahan warga penduduk, serta perkantoran.

Kemudian yang Kedua ialah diperlukan pengawasan yang baik dari komponen masyarakat sendiri pada skala mikro, bisa dipimpin ketua RT/RW, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat.

BOR Kota Pontianak Tertinggi se-Kalbar, Harisson: Penerapan PPKM Kota Pontianak Harus Sangat Ketat

Untuk itu perlu dibentuk juru covid-19 (jucovid), mengadopsi dari program Pencegahan DBD yaitu Jumatik (juru pemantau jentik) yang berhasil menakan kasus DBD secara signifikan. Di setiap RT ada satu orang tenaga relawan satgas covid-19 (jucovid) yang diberi insentif oleh Pemkot atau Pemkab.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved