Breaking News:

Praktikkan Pancasila Sejak Dini, Sekolah Cerlang Ajak Anak Pahami Keberagaman

Dia menambahkan bahwa orangtua murid di Cerlang juga menerapkan sikap menghormati keberagaman. Sehingga pengasuhan anak di rumah dan sekolah bisa seja

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Dian Lestari, menjadi satu di antara lima guru yang berbagi pengalaman tentang praktik pendidikan Pancasila, pada webinar dengan tema “Menjiwai Pendidikan Pancasila” yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Dian Lestari, menjadi satu di antara lima guru yang berbagi pengalaman tentang praktik pendidikan Pancasila, pada webinar dengan tema “Menjiwai Pendidikan Pancasila” yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Guru.

Pada diskusi yang dihadiri audiens dari berbagai provinsi tersebut, Dian menceritakan bahwa Sekolah Cerlang mengajak anak dan orangtua untuk memahami dan merawat keberagaman.

“Kita ada program mengunjungi berbagai rumah ibadah. Setelah selesai keliling-keliling rumah ibadah, fasilitator berdiskusi dengan anak untuk refleksi. Ada satu anak yang bilang bahwa di semua rumah ibadah dikunjungi, semua ada tempat sujud, tapi rasa tempat sujudnya beda-beda. Ada rumah ibadah yang tempat sujudnya empuk dan bisa turun naik,” kata Dian, Rabu 2 Juni 2021.

Melalui percakapan yang sekilas terkesan mengandung cerita lucu tersebut, menurut Dian jika dimaknai secara mendalam akan tercermin bahwa ternyata anak-anak memandang keberagaman dengan berfokus terhadap persamaan dibanding perbedaan. “Sebaliknya sekarang ini banyak orang dewasa yang berfokus pada perbedaan, dibanding persamaan dalam keberagaman. Rasanya kita perlu belajar dari anak-anak,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa orangtua murid di Cerlang juga menerapkan sikap menghormati keberagaman. Sehingga pengasuhan anak di rumah dan sekolah bisa sejalan, dengan tujuan menciptakan lintas generasi yang merawat keberagaman.

Guru lain yang berbagi pengalaman adalah Muhammad Dhofier, guru matematika di SMP Al-Fath BSD, Tangerang Selatan. “Ketika mengajar tentang senilai dan tak senilai, saya menanyakan kepada anak-anak apakah senilai kalau kita membandingkan orang-orang yang beragam agama dan sukunya,” katanya.

Baca juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Dandim 1201 : Nilai-Nilai Pancasila Harus Tertanam Dalam Hati

Beragam pengalaman yang disampaikan guru-guru di beberapa daerah, dinilai memiliki persamaan oleh Doni Koesoema, Pengamat Pendidikan, Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BSNP). “Selalu ada refleksi antara guru dan murid. Ini dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kepada siswa,” ujarnya.

Doni yang merupakan praktisi pendidikan karakter, menyatakan bahwa tidak cukup bagi guru mencontohkan sikap tentang kemandirian dan tepat waktu bagi siswa. Seharusnya guru menanamkan tentang kerjasama, menghormati keberagaman agama, budaya, suku, dan kemampun fisik yang berbeda.

“Benang merah” atau persamaan pengalaman para guru juga diungkap Dhitta Puti Sarasvati, dosen Sampoerna University. “Benang merahnya adalah menghargai manusia. Guru mengajak murid berdialog, menciptakan suasana yang membuat murid merasa nyaman,” kata alumnus ITB tersebut.

Dia menyitir buku “Pendidikan Humanisasi” karya Dr M Sastraprateja yang menjabarkan tentang lima corak pendidikan berdasarkan Pancasila. Yakni memperlakukan manusia secara hormat karena ciptaan Tuhan, pendidikan bersifat manusiawi, berwawasan kebangsaan dan menumbuhkan karakter kebangsaan, dasar pendidikan Indonesia harus demokratis dan menjunjung tinggi demokrasi, serta mewujudkan pemerataan pendidikan.

Puti mengingatkan agar pendidikan di Indonesia hendaknya mempraktikkan lima corak berdasarkan Pancasila tersebut. (*)

(Update Informasi Seputar Kota Pontianak)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved