SEJARAH Keberhasilan Penyelamatan Awak Kapal Selam Yang Hilang
Insiden yang dialami KRI Nanggala-402 tersebut merupakan insiden terbaru mengenai tragedi kapal selam di seluruh dunia.
Selanjutnya, SEIE juga dilengkapi rakit pelampung yang begitu berada di permukaan dapat dikaitkan dengan rakit pelampung lainnya.
Diselamatkan
Sebelum tahun 1939, anggapan yang muncul adalah jika awak kapal selam tidak berhasil menyelamatkan diri dari kapal selam yang tenggelam, maka hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan mereka.
Pada 1920-an, beberapa angkatan laut, khususnya Angkatan Laut AS, melakukan uji coba sejumlah operasi penyelamatan dan beberapa kali berhasil.
Namun, operasi penyelamatan awal ini dilakukan dalam kondisi ideal yang jarang terjadi dalam praktiknya.
Pada kenyataannya, jumlah kerusakan yang dialami kapal selam tidak diketahui, yang berarti kapal selam tidak dapat dipindahkan karena dapat pecah dalam prosesnya.
Waktu juga merupakan faktor penting.
Kondisi yang tidak menguntungkan di permukaan juga bisa mencegah operasi penyelamatan dilakukan.
Seperti yang terjadi pada 1927 terhadap kapal selam Amerika S-4, angin kencang mencegah penyelamatan dimulai tepat waktu.
Karena sulitnya operasi penyelamatan, maka muncul anggapan pada waktu itu bahwa upaya penyelamatan paling utama ketika kapal selam tenggelam adalah upaya menyelamatkan diri.
Namun pemikiran tersebut berbalik 180 derajat pada 1939 ketika kapal selam Angkatan Laut AS USS Squalus tenggelam.
Terakhir Selama uji coba berlayar di laut, kegagalan peralatan mengakibatkan banjir di ruang torpedo di belakang USS Squalus, ruang mesin, dan tempat tinggal awak yang menewaskan 26 dari 59 awak kapal secara instan.
Keeseokan harinya setelah kapal tersebut tenggelam, penyelam memulai operasi untuk menyelamatkan para awak kapal yang masih hidup.
Kapal penyelamat kapal selam USS Falcon tiba di lokasi dan menurunkan ruang penyelamat McCann yang baru dikembangkan.
USS Falcon juga membawa ahli penyelamat Charles B Momsen.
Momsen inilah orang yang mengembangkan Momsen Lung.
Ruang penyelamat McCann berupa sel baja besar yang diturunkan dari permukaan kapal untuk menutupi pintu keluar kapal selam.
Setelah terpasang, ruang penyelamat ini memungkinkan dapat mengurangi tekanan udara dan membuka palka untuk memungkinkan kru yang terperangkap naik ke atas kapal.
Sebanyak 33 kru yang selamat berhasil diselamatkan dalam empat kloter.
Sistem Kamar Penyelamatan McCann tetap beroperasi di beberapa angkatan laut kontemporer, termasuk Angkatan Laut AS dan Angkatan Laut Turki.
Sejak saat itu, pemikiran untuk upaya penyelamatan kapal selam berkembang lebih jauh pada 1960-an setelah hilangnya dua kapal selam bertenaga nuklir AS, USS Thresher dan USS Scorpion.
Setelah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kapal selam dengan pod penyelamatan diri yang terpasang dan kapal selam dengan ujung depan yang dapat dinaikkan ke permukaan, Angkatan Laut AS mengembangkan Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV).
DSRV merupakan kapal selam mini berawak yang bisa dipasangkan dengan palka yang mampu menampung 24 orang sekaligus dan memasuki layanan selama 1970-an.
Angkatan laut lainnya mengikuti jejak Angkatan Laut AS dan mengembangkan kemampuan wahana penyelamatan portabel mereka sendiri.
Angkatan Laut Kerajaan Inggris mengembangkan LR5 Submarine Rescue Vehicle (SRV) yang mirip dengan DSRV dalam banyak aspek.
LR5 adalah bagian dari Dinas Penyelamatan Kapal Selam Inggris yang juga mencakup Submarine Parachute Assistance Group (SPAG) dan Scorpio Remote Operated Vehicle (ROV).
Tim penyelamat ini terdiri atas personel terpilih dan dapat dikerahkan dengan cepat.
SPAG berfungsi sebagai kekuatan utama yang memberikan bantuan kepada kapal selam yang tenggelam atau kru yang berhasil menyelamatkan diri.
Baik LR5 dan DSRV mendekati akhir masa pakainya dengan masing-masing digantikan oleh sistem baru pada akhir 2008.
LR5 digantikan oleh NATO Submarine Rescue Service (NSRS).
NSRS dikembangkan bersama oleh Inggris, Perancis, dan Norwegia.
Sedangkan Angkatan Laut AS menggantikan DSRV dengan Submarine Rescue Diving and Recompression System (SRDRS).
Kedua sistem tersebut serupa dan akan melakukan operasi penyelamatan dalam tiga tahap yakni survei, penyelamatan, dan dekompresi.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "KRI Nanggala-402 Masih Dicari, Ini Sejarah Upaya Penyelamatan Kapal Selam"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sejarah-keberhasilan-penyelamatan-awak-kapal-selam-yang-hilang.jpg)