SEJARAH Keberhasilan Penyelamatan Awak Kapal Selam Yang Hilang

Insiden yang dialami KRI Nanggala-402 tersebut merupakan insiden terbaru mengenai tragedi kapal selam di seluruh dunia.

Tayang:
Editor: Mirna Tribun
TRIBUNFILE/YOUTUBE
SEJARAH Keberhasilan Penyelamatan Awak Kapal Selam Yang Hilang 

Untuk membantu menyelamatkan diri, awak kapal selam juga dapat menggunakan jaket pelampung atau cincin apung.

Teknik free ascent dengan bantuan alat apung lantas diadopsi oleh kapal selam Angkatan Laut Australia di Submarine Escape and Rescue Centre di HMAS Stirling.

Setelah itu Angkatan Laut AS juga mengembangkan sistem penyelamatan diri dan memperkenalkan Steinke Hood pada 1962.

Steinke Hood merupakan body suit penyelamatan diri yang dilengkapi tudung dan masker plastik yang terpasang pada jaket pelampung.

Steinke Hood memungkinkan anggota kru menghirup udara yang terperangkap di tudung saat upaya penyelamatan diri dan naik ke permukaan laut.

Free ascent dan Steinke Hood diterapkan cukup lama, tetapi kedua sistem ini tetap memiliki kekurangan.

Pada 1950, kapal selam Inggris HMS Truculent tenggelam setelah bertumburan dengan kapal dagang yang terlihat dari pantai Inggris.

Semua dari 72 awak berhasil mencapai permukaan.

Namun, hanya 15 yang selamat dan sisanya tersapu ke laut oleh air pasang dan hilang.

Kekurangan dua sistem penyelamatan itu kembali terbukti melalui bencana yang menimpa kapal selam milik Uni Soviet, Komsomolets.

Kapal selam tersebut tenggelam pada 1989.

Dari 69 awak kapal tersebut, 34 di antaranya berhasil naik ke permukaan.

Namun, mereka meninggal karena hipotermia, gagal jantung, atau tenggelam.

Pada 1990-an, sebagian besar angkatan laut dunia yang mengoperasikan kapal selam, termasuk Angkatan Laut Australia, mengganti sistem penyelamatan diri yang ada dengan Submarine Escape Immersion Ensemble (SEIE) yang dikembangkan Inggris.

Menggunakan udara yang terperangkap, mirip dengan Steinke Hood, SEIE menutupi awak kapal selam sepenuhnya dan yang terpenting, memberikan perlindungan termal.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved