Satu Jam Berbincang Bersama Jusuf Kalla di Vatikan
Tidak pernah terbayang kalau hari ini saya bertemu Pak JK di Vatikan dan menghabiskan satu jam bersama beliau.
Kami lalu meninggalkan Padre Mapelli dan bergerak menuju Kapel Sixtin. Dalam perjalanan ke sana, saya menjelaskan kepada Pak JK tentang sejarah Kapel Sixtin.
Kapel yang dibangun oleh Paus Sixtus IV pada bagian kedua abad ke-15 ini menjadi penting dan terkenal karena pertama, merupakan satu-satunya Kapel di dunia yang berisi lukisan-lukisan Micheangelo.
Dua yang terkenal sekali adalah penciptaan manusia pertama (Adam), di mana Tuhan dan Adam berbaring sambil merentangkan tangan ke arah satu sama lain pertanda saling merindukan dan saling mencari, tetapi jari telunjuk mereka tidak bisa bersentuhan.
Dan lukisan terkenal lainnya adalah Pengadilan Terakhir.
Kedua, Kapel Sixtin adalah tempat pemilihan para Paus yang dikenal dengan nama Konklav (dengan kunci; di bailk ruang tertutup).
Di Kapel Sixtin Pak JK memilih untuk berdiri saja supaya lebih leluasa melihat keindahan lukisan-lukisan Michelangelo di abad pencerahan (renaissance) ini.
Beliau kelihatan sangat kagum.
Oleh karena keterbatasan waktu, mengingat beliau harus bergegas ke bandara Leonardo da Vinci untuk meneruskan perjalanan ke Riyadh dan Mekkah di Arab Saudi, maka kami berhenti di sini.
Dalam perjalanan kembali, saya menyempatkan diri untuk berbicara dengan Pak JK tentang berbagai hal, termasuk sikon politik Indonesia saat ini. Kata beliau
Suhu politik kita naik turun. Ada banyak demo. Pada akhirnya kami berdua sama-sama berharap agar hal ini akan segera berakhir.
Tak lupa beliau mengajak untuk nanti bertemu kembali di Jakarta.
Beliau tertarik untuk membahas lebih banyak soal dialog lintas agama untuk perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Dengan senang hati saya menyambut keinginan dan ajakan beliau.
Di pintu keluar kami sempat berfoto bersama.
Sebelum berpisah saya membisik halus ke beliau " Pak, jangan lupa selalu pakai masker ya. Covid di mana-mana sedang menular drastis,"
Beliau angguk sambil saling menepuk bahu pengganti jabat tangan.
Sebuah pertemuan indah dengan banyak pesan ekspilsit dan implisit yang pasti akan selalu membekas di dalam hati dan ingatan.
Kalau pun banyak hal akan hanyut terkikis oleh waktu, minimal satu hal ini menarik untuk dikenang.
Dari Jakarta ke Vatikan, lalu ke Riyadh dan Mekkah, kemudian kembali ke Jakarta. Sebuah perjalanan penuh makna dan pesan. Semuanya untuk Dokumen Abu Dhabi „Persaudaraan Insani“, sebuah pedoman dan batu loncatan berdinamika baru dan lugas menuju perdamaian lintas agama dan kehidupan bersama yang rukun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/berbincang-dengan-jusuf-kalla-di-vatikan.jpg)