Diskusi Daring SAKA Bedah Bangkit Bersama Menangkal Radikalisme di Masa Pandemi

Isu radikalisme di tengah pandemi mulai banyak dibahas di tingkat nasional dan global. Dampak ekonomi dan sosial diperkirakan akan menciptakan krisis

Editor: Nina Soraya
TRIBUN/FILE
Diskusi daring “Menangkal Ancaman Radikalisme di tengah Pandemi Covid – 19 di Pontianak” pada Rabu (20/5/2020). Diskusi ini diselenggarakan oleh yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meski ancaman radikalisme masih minim di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, kita tidak boleh lengah.

Apalagi di masa pandemi ini dimana berita bohong (hoaks) dan siar kebencian banyak beredar.

Malaysia Salurkan Sembako ke Warga Perbatasan di Kapuas Hulu

MUTIARA RAMADHAN - Menahan Diri dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan

Prakiraan Cuaca BMKG Jumat 22 Mei 2020: Waspada Hujan Lebat & Angin Kencang Hampir Merata di Kalbar

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menjelaskan untuk menghindari ancaman radikalisme ini tentunya semua elemen pemerintah, organisasi dan masyarakat harus membangun dan memperkuat kerjasama.

Hal ini disampaikan Bahasan di dalam diskusi daring “Menangkal Ancaman Radikalisme di tengah Pandemi Covid – 19 di Pontianak,”Rabu, 20 Mei 2020.

Diskusi ini diselenggarakan oleh yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam isu kebhinnekaan, perdamaian dan demokrasi.

Hadir juga sebagai pemateri dalam diskusi yang dipandu oleh Dian Lestari dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah wakil dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB); Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalbar dan peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC).

Isu radikalisme di tengah pandemi mulai banyak dibahas di tingkat nasional dan global. Dampak ekonomi dan sosial dari pandemi diperkirakan akan menciptakan krisis di masyarakat.

Banyak usaha mengalami penurunan penghasilan hingga gulung tikar sehingga perusahaan mengambil langkah PHK terhadap karyawan.

Di Indonesia, diperkirakan kemiskinan akan meningkat pada tahun 2020 antara 9,7 - 12,4% atau setara 1,3 juta hingga 8,5 juta jiwa.

“Situasi ini tentu akan berdampak pada kesejahteraan sosial masyarakat dan dikuatirkan akan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok dengan paham radikalisme yang ingin memecah-belah persatuan bangsa,” katanya.

Mawas pada potensi perpecahan bangsa secara khusus digarisbawahi oleh Iskandar, anggota FKUB Pontianak.

“Kita lihat akhir-akhir ini banyak berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang disebarkan kepada orang-orang lain. Ini menjadi sebuah masalah yang harus kita tangani bersama. Jangan cepat mengambil kesimpulan terhadap berita-berita yang belum ada kebenarannya,” pungkasnya.

Hasil penelitian IPAC mengkonfirmasi berkembangnya radikalisme di tengah pandemi di Indonesia, yang terkait dengan jaringan terorisme dan serangan yang diarahkan kepada kepolisian, serta meningkatnya sentimen negatif pada etnis Tionghoa.

Namun, menutur Deka Anwar, potensi radikalisme berbasis agama di Kalbar lebih rendah daripada di daerah lain, misalnya Banten atau Poso.

Ketegangan yang tampak di sini lebih berbasis etnis dan intensitasnya kerap meningkat pada momen tertentu, misalnya pilkada.

“Potensi radikalisme ada namun untuk wilayah-wilayah yang terbatas. Khususnya kota Pontianak, masih belum ada,” kata Ketua FKPT Dr Wajidi.

Dalam mengatasi persoalan terkait radikalisasi dan ketegangan antar kelompok masyarakat, anak muda perlu mendapatkan perhatian khusus.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved