Social Distancing, Isolasi, dan Panggilan Bangsa dalam Semangat Cinta Kasih dan Belas Kasih
Robert E Park mendefinisikan social distancing sebagai ukuran untuk melihat derajat hubungan sosial antar pribadi dan antar kelompok...
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
Saatnya kita berbelas kasih karena kesatuan kita sebagai satu bangsa; apalagi wabah ini terkena pada relasi kita yang kita kenal dan dekat dengan kita. Pada situasi sekarang hendaknya kita tidak menghakimi satu sama lain dan bahkan mengambil kesempatan dari situasi ini untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Politik harusnya berhenti di tengah wabah yang mengenaskan ini dan bersama-sama berbela rasa dan berpikir bersama demi kesembuhan si sakit dan membuat manajemen pengendalian wabah.
Tindakan hoax, mengambil panggung politik di atas wabah dan saling tuding menyalahkan merupakan tindakan tanpa belas kasih dan memperburuk keadaan serta menyepelekan mereka yang nasibnya terkena wabah ini.
SD dan isolasi merupakan tindakan pertama bela rasa dan berbelas kasih. Seperti yang ditulis di depan; kita membiarkan si sakit dirawat intensif dan kita sendiri mencoba memutuskan rantai penyebaran virus Covid-19 dengan SD. Justru di sini cinta kasih dan persatuan kita semakin intens karena kita menghendaki yang baik dan berbelas kasih kepada sahabat dan jaringan sahabat kita serta masyarakat luas.
Belas kasih lain yang paling dibutuhkan adalah solidaritas. Solidaritas itu bukan hanya sebuah perasaan; melainkan tindakan. Solidaritas adalah bukti dan perwujudan bahwa SD dan isolasi bukannya tanpa komunikasi dan persatuan (communion).
SD dan isolasi di saat ini bukan berarti acu tak acuh, mengurung diri, hidup di dalam rasa curiga dan ketakutan. SD dan isolasi sejati adalah kesadaran akan cinta kasih dan belas kasih. Maka dengan keterbatasan fisik kita melakukan tindakan solidaritas sebagai wujud cinta kasih dan belas kasih. Solodaritas adalah sebuah gerakan bersama. Gerakan bersama apa yang diharapkan?
Menurut hemat penulis di sini saatnya gerakan solidaritas berbagi. Inilah saatnya "yang mempunyai berbagi untuk yang paling rapuh dan terkena efek wabah Covid-19." Pertama, kita harus membantu pemerintah dengan segala upaya di dalam bidang kesehatan.
Kini saatnya masyarakat berbagi dengan pemerintah mengusahakan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan (serta obat yang dibutuhkan) untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka yang punya karena selama ini berjuang dan hidup di negeri ini harus berbagi untuk membantu pemerintah memenuhi kebutuhan alat kesehatan dan obat yang dibutuhkan. Saatnya kita bersinergi.
Kedua, kita harus memikirkan masyarakat yang rapuh akibat efek ekonomi dari wabah Covid-19 ini dengan berbagi "makanan dan minuman." Mereka yang rapuh secara ekonomi dan harus hidup dari pendapatan harian dan bahkan mingguan serta terkena efek penurunan kinerja bisnis haruslah dibantu dengan gerakan solidaritas.
Saatnya kita harus sadar bahwa Allah menciptakan kekayaan semesta untuk semua. Hak milik kekayaan pribadi bersifat sosial; apalagi pada masa sulit seperti ini. Kalau terjadi instabilitas sosial maka bangsa ini dan kita semua yang rugi.
Apa yang kita bangun lebih dari 30 tahun akan hancur dan kita pun turut hancur. Bersikap acuh, apalagi mencari panggung politik atas wabah Covid-19 ini, merupakan taruhan besar bagi keberlansungan bangsa. Kita tidak bisa membiarkan pemerintah bekerja sendiri. Setiap inisiatif, seberapa pun kecil, adalah tindakan cinta kasih dan belas kasih. Selamat memasuki masa di mana kita harus bersolider dengan sesama. *