Social Distancing, Isolasi, dan Panggilan Bangsa dalam Semangat Cinta Kasih dan Belas Kasih

Robert E Park mendefinisikan social distancing sebagai ukuran untuk melihat derajat hubungan sosial antar pribadi dan antar kelompok...

Social Distancing, Isolasi, dan Panggilan Bangsa dalam Semangat Cinta Kasih dan Belas Kasih
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ALFON PARDOSI
Anggota DPR RI Dr Drs Adrianus Asia Sidot Msi bersama Romo Robini sebelum menghadiri acara wisuda ke 4 STKIP Pamane Talino pada Sabtu (14/9/2019). 

OPINI

Penulis: RP Dr Johanes Robini Marianto OP | Ketua Yayasan Landak Bersatu

PONTIANAK - Akhir-akhir ini merebak terminologi "Social Distancing"(disingkat SD) – bisa diartikan sebagai pengambilan jarak di dalam relasi atau interaksi sosial, terutama secara fisik – di dalam menghadapi wabah Covid-19. Pembatasan interaksi sosial secara fisik diharapkan akan membantu pemberhentian merebaknya wabah Covid-19.

Robert E Park mendefinisikan SD sebagai ukuran untuk melihat derajat hubungan sosial antar pribadi dan antar kelompok di dalam variabel untuk saling memahami dan kedalaman relasi (intimacy) yang terjadi. Di dalam SD akan timbul yang namanya "kami/saya/kita" (kelompokku dan kelompok kita) dan "dia/mereka" (kelompok dia dan kelompok mereka).

Sebenarnya SD itu adalah hal yang biasa terjadi di masyarakat tanpa kita sadari. Permasalahannya adalah ketika dipertajam bisa menimbulkan segregasi di dalam masyarakat atau "dipaksakan" seperti keadaan seperti sekarang ini ketika menghadapi bahaya wabah Covid-19.

Permasalahan yang terakhir (yaitu ketika menghadapi wabah Covid-19) SD diterapkan secara artifisial (buatan di dalam arti direkayasa secara sadar) bahkan meliputi mereka yang selama ini merasakan satu kelompok sosial bahkan satu ikatan emosional dekat (misalnya: teman, kolega dan bahkan anggota keluarga).

SD direkayasa sedemikian rupa sehingga bahkan terjadi segregasi (jarak) fisik yaitu kontak fisik; termasuk saling menghadirkan yang merupakan hakekat esensial dari komunikasi dan kesatuan (communion).

Di sini kita semua dibuat sadar bahwa SD itu real dan terjadi tanpa kita sadari ketika SD yang direkayasa, dianjurkan dan bahkan di beberapa tempat SD dipaksa menjadi situasi isolasi (minimal pertemuan atau kehadiran fisik). Mungkin lebih jauh lagi, bersamaan dengan merebaknya virus Covid-19 dan justru karenanya, apakah tidak mungkin ada stigma "mereka" (penderita Covid-19 atau bekas penderita Covid-19) di kemudian hari? Dikhawatirkan muncul diskriminasi terhadap mereka yang menderita atau bekas penderita Covid-19.

Di samping itu apakah SD yang direkayasa saat ini sah secara etis (apalagi di beberapa tempat dilakukan dengan paksa) dan mengisolasi mereka yang dicurigai atau sudah terjangkit Covid-19? Apakah SD tidak menghancurkan ikatan sosial atau kesatuan (communion) yang selama ini kita bangun?

Kesejahteraan/Kepentingan Umum
Argumen utama dilaksanakannya SD dan sekaligus pembenarannya adalah semuanya demi kesejahteraan atau kepentingan umum. Pertanyaannya adalah: apakah arti kepentingan umum? Apa makna dan isi kepentingan/kesejahteraan umum tersebut?

Halaman
1234
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved