Corona Masuk Indonesia
Virus Corona Covid 19 Tak Mematikan, Dr. Ika: Virus Hoaks Corona Lebih Berbahaya
Sementera, COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981.
Angka kematian terbesar di China karena endemis dan virusnya sangat mudah menular.
“Dari data banyaknya pasien-pasien yang meninggal karena sebelumnya telah memiliki penyakit-penyakit yang lain. Jadi, sebelum terkena corona, sebelum terkena Covid, ia sudah sakit, semisal jantung, gagal ginjal, gagal liver dan lain-lain dan usianya sudah lanjut," terang Dr. Ika.
Sementara itu, untuk pasien-pasien yang berusia muda angka kematiannya sangat kecil.
Mereka yang dalam kategori usia produktif ini umumnya memiliki daya tahan yang masih bagus.
“Virus ini sangat bergantung pada ketahanan tubuh. Jadi, yang meninggal karena ia punya penyakit kronis yang lain dan telah berusia lanjut," imbuh Dr. Ika.
Lebih bahaya virus hoaks daripada virus corona
Dr. Ika sangat berharap masyarakat untuk tidak panik menghadapi wabah ini.
Menurutnya, kepanikan muncul akibat ketidaktahuan soal virus ini, belum lagi dengan beredarnya isu-isu yang berkembang.
Baginya, berita hoaks terkait COVID-19 justru merupakan hal yang paling berbahaya sehingga di Indonesia bukan virus Covid-nya yang membahayakan.
Namun, ia menilai virus hoaks tentang corona lebih berbahaya karena lebih liar dan susah dikendalikan.
“Kalau virus Covid-nya bisa ditangani dengan cara dikarantina, pasien bisa dikendalikan penularannya, tapi kalau virus hoaks susah dikendalikan. Beberapa waktu kemarin kita sudah mengadakan pertemuan dengan Kementerian Kesehatan dari bidang informasi dan komunikasi guna mambahas isu-isu hoaks agar bisa ditangani secara serius," katanya.
Pakar mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, dr. Titik Nursyastuti, SpMK., Ph.D, menyatakan Covid-19 dimulai pada 2019 dengan penemuan kasus pneumonia di daerah Wuhan dan tidak sampai sebulan sudah muncul kasus di luar China.
Thailand menjadi negara pertama terdampak.
“Data WHO menyebut hampir di semua benua sudah terdampak oleh Covid-2019. Tetapi WHO sampai sekarang belum menyatakan sebagai pandemik," ungkapnya.
Menurutnya, virus ini sebenarnya labil, tidak tahan panas, tidak tahan bahan kimia dan sebagainya.