Corona Masuk Indonesia

Virus Corona Covid 19 Tak Mematikan, Dr. Ika: Virus Hoaks Corona Lebih Berbahaya

Sementera, COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981.

Editor: Nasaruddin
KOMPAS.com/IMAM ROSIDIN
Tim medis RSUP Sanglah dalam simulasi penanganan pasien terjangkit virus corona di Ruang Isolasi Nusa Indah, Rabu (12/2/2020). 

Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD-KP mengatakan, virus corona sesungguhnya tak mematikan.

Menurut Dr Ika, virus Hoaks lebih berbahaya daripada virus corona.

Hal itu disampaikannya dalam kuliah mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Program Studi Profesi Apoteker bertema Tentang Corona Virus dan Penanganannya.

Menurut Dr. Ika, virus corona pernah menjadi wabah dunia dengan tiga jenis yang dikenal selama ini, yaitu SARS-Cov, MERS-Cov dan COVID-19.

SARS muncul tahun 2002 di China dan Hongkong, kemudian MERS muncul tahun 2012 dan di akhir tahun 2019 menyusul COVID-19.

SARS-Cov jumlah kasusnya mencapai 8.098, meninggal dunia 774 orang dan Case Fatality Rate 9,6 persen.

MERS-Cov yang terjangkit lebih sedikit yaitu 2.494, tetapi angka kematian cukup tinggi 858 sehingga Case Fatality Ratenya 34,4 persen.

Sementera, COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981.

Angka kematian ini terlihat sangat tinggi, tetapi bila dibandingkan dengan jumlah kasusnya maka Case Fatality Rate-nya hanya 3,4 persen.

COVID-19 atau Coronavirus - Sejumlah Laga Shopee Liga 1 dan Timnas Indonesia Vs Thailand Ditunda

Untuk diketahui, Case Fatality Rate merupakan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tertentu pada periode waktu tertentu dibagi jumlah kasus dari penyakit tersebut.

“Oleh karena itu, tidak usah terlalu panik, kita memiliki data atau bukti ilmiah. Artinya apa, virus ini tidak mematikan, namun memang mudah menular," kata Dr. Ika seperti dikutip dari laman ugm.ac.id.

Dari data yang ada, lanjut Dr. Ika, yang terpenting soal COVID-19 ini adalah identifikasi kasus apakah ia importir case atau local transmission.

Ia memberi contoh di Pakistan.

Di sana, banyak kasus merujuk pada importir case artinya kasus-kasus yang muncul akibat virus dari luar masuk ke dalam.

Dr. Ika mengakui angka kematian di luar China paling banyak di Korea, Jepang, Philipina, Italia, Perancis, Iran dan di kapal Diamond Princess.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved