Mahasiswa Teknik Untan Ciptakan Alat Pengukur Kualitas Udara, Ini Wujudnya

kualitas udara dari tahun ke tahun semakin buruk. Ditambah polusi serta asap karhutla yang sering menyiksa masyarakat.

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ MAUDY ASRI GITA UTAMI
Mahasiswa semester 6, Bagus Arif Hidayatullah merancang alat ukur portabel yang berukuran mini, Selasa (3/3/20). 

PONTIANAK- Berawal dari keprihatinannya melihat alat ukur kualitas udara yang tidak lagi berfungsi dengan baik dibeberapa titik Kota Pontianak, Bagus Arif Hidayatullah, mahasiswa semester 6 itu merancang alat ukur portabel yang berukuran mini, Selasa (3/3/20).

Bagus merupakan anak Teknik Universitas Tanjungpura yang dimbing langsung oleh seorang dosen Dr. Eng. Ferry Hadary, S.T., M.Eng dalam berkolaborasi untuk mempermudah masyarakat melihat kualitas udara.

Ditemui Tribun Pontianak di Japan Corner, Bagus Arif Hidayatullah menceritakan bahwa kesehariannya sebagai mahasiswa ialah ingin memberikan suatu produk yang bermanfaat bagi masyarakat di Kalimantan Barat.

Dimana ia melihat, kualitas udara dari tahun ke tahun semakin buruk. Ditambah polusi serta asap karhutla yang sering menyiksa masyarakat.

Resmikan Hotel Berbintang Tiga Plus di Ketapang, Martin Harap dapat Kurangi Angka Pengangguran

"Kalau kita tahu dibeberapa titik Kota Pontianak, ada di pajang alat ukur kualitas udara, namun tidak lagi beroperasi secara baik. Saya prihatin, seharusnya masyarakat bisa mewanti-wanti untuk menjaga kesehatan jika melihat alat ukur tersebut," ujar Bagus Arif Hidayatullah

Dengan metode portabel, Bagus mengaku masih banyak yang perlu diperhatikan dalam alat pengukur tersebut.

Seperti wadah yang terlindungi, bentuk yang bisa dilihat dalam ukuran tangan, serta komponennya.

"Sejauh ini kendala adalah ukurannya yang belum signifikan. Kalau komponen, saya memakai barang-barang yang bisa digunakan seperti lampu, micro dan komponen lainnya yang masih ada dijual di Indonesia," kata Bagus Arif Hidayatullah.

Namun, perampungan dalam membuat alat ukur kualitas udara tersebut masih belum cukup sempurna, karena Bagus hanya bermodalkan komponen yang sama namun dengan kualitas yang jauh berbeda dari komponen aslinya.

Polda Tetapkan 5 Tersangka Kasus Korupsi Bansus Bengkayang, Rugikan Negara Hampir Rp 20 Miliar

"Performa alat ukur kualitas udara ini sudah komplit, saya tambahkan beberapa aksesoris agar lebih memudahkan untuk dilihat dan di mengerti orang lain. Namun masih perlu lagi perbaikan agar alat ukur ini nantinya bisa dikembangkan lebih baik lagi oleh stakeholder dan juga dukungan dari Universitas," tutur Bagus Arif Hidayatullah.

Sejauh ini, Bagus Arif Hidayatullah telah menghabiskan dana sebesar Rp 1.-1.5 juta rupiah. Uang tersebut pun ia sisihkan dari uang jajan yang diberikan oleh orangtuanya.

Ia juga masih mencicil beberapa komponen agar alat pengukur kualitas udaranya bisa digunakan oleh masyarakat.

Dukung Karya Mahasiswa

Sebagai dosen pembimbing dari mahasiswa Teknik di Universitas Tanjungpura, Dr. Eng. Ferry Hadary, S.T., M.Eng berharap produk teknologi yang inovatif dari mahasiswanya bisa menjadi modal utama di dunia perindustrian berbasis teknologi.

Ferry Hadary menceritakan, bahwa beberapa dari mahasiswa teknik sudah menciptakan alat-alat teknologi, seperti robot, mesin digital, hingga untuk melihat alat pengukur kualitas udara dan lain sebagainya.

Aleksius Jadi Saksi Perkara Korupsi Gidot, JPU Sebut Keterangannya Kuatkan Dakwaan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved