Ustadz Abdul Somad
Filosofi Bersepeda (Gowes) Menurut Ustadz Abdul Somad (UAS)
UAS mengatakan, dalam solat, kita diajarkan untuk mengisi shaff. Karena kalau ada shaff yang kosong, di situ setan akan masuk.
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Ustadz Abdul Somad menyampaikan filosofi bersepeda atau gowes saat menyampaikan filosofi bersepeda pada kajian khusus gowes di Duriangkang Bike Park, Batam.
Menurut Ustadz Abdul Somad, filosofi bersepeda yang pertama adalah teruslah berkayuh. Karena berhenti berarti jatuh.
Ustadz Abdul Somad mengatakan, hal ini tertuang dalam Al Quran Surah Al Insyirah ayat 7
“Kalau kau selesai dari satu aktivitas, maka lanjutkanlah aktivitas yang lain. Jangan pernah berhenti. Karena begitu kosong dari aktivitas, di situ setan masuk," kata Ustadz Abdul Somad.
UAS mengatakan, dalam solat, kita diajarkan untuk mengisi shaff. Karena kalau ada shaff yang kosong, di situ setan akan masuk.
"Maka begitu juga dengan waktu. Tadi kita bangun, yang awal bangunnya ambil wudhu atau langsung mandi solat sunat wudhu," katanya.
• Doa Bulan Rajab Agar Diberkahi pada Rojab dan Sya’ban Serta Bertemu dengan Bulan Ramadan 2020
"Abis itu solat sunat taubat, abis itu solat sunat hajat, abis itu solat sunat tahajud, bagi yang belum witir, witir. abis itu baca quran menunggu azan subuh berkumandang. beristighfar. Setelah itu solat subuh. Setelah itu berzikir, setelah itu berdoa, setelah itu bersepeda," lanjutnya.
Dengan mengisi waktu kosong ini, selamatlah kita dari ghibah, membicarakan orang lain, selamat kita dari melihat yang tidak diridhai Allah
"Dan semua ini adalah cara mengisi waktu. Karena yang pertama ditanya Allah SWT di padang mahsyar umur yang diberi Allah SWT digunakan untuk apa," jelasnya.
UAS mengatakan, dalam hidup ini ada kalanya gelombang pasang naik ke atas, ada kalanya surut jatuh ke bawah. Dipukul ombak dihempas gelombang.
Karang tajam, kapal mungkin pecah, terhampar.
"Tapi jangan pernah putus asa. Karena begitu kita putus asa, maka di situlah setan masuk," katanya.
"Kita selalu berserah kepada Allah SWT, berikhtiar, berusaha. Berhasil, karena Allah. Gagal, berarti Allah punya skenaro yang baik," ujarnya.
Filosofi kedua dari bersepeda menurut UAS adalah mengingatkan tentang masa lalu.
"Saya diajak mundur kembali ke masa kecil saya saat SD dulu. Saat di kampung menelusuri jalan setapak, jalan tikus. itu yang tadi saya ingat," kata UAS.
Menurutnya, tidak banyak orang yang bisa mengenang kembali masa lampau.
• Hukum Merayakan Isra Miraj 27 Rajab
"Kenapa? Karena hidup ini cuman tiga. masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang. Masa akan datang kita belum tahu entah apa yang terjadi. Masa yang lalu kita memang sudah lama melupakannya," katanya.
"Kita hanya terlena dengan masa sekarang,dan dibuai mimpi-mimpi masa depan. Sehingga orang tak pernah mau menoleh ke belakang," paparnya.
"Tapi hari ini, kita sedang diingatkan dengan keadaan bahwa kita pernah punya masa lalu. Maka yang masa lalunya hitam, kelam, hari ini putihkan, bersihkan, terangkan dengan taubat nasuha," katanya.
"Yang masa lalunya banyak silap, slaah, dosa, hari ini kita sedang mengingat bahwa kita akan menatap masa depan, maka insya Allah masa lalu disyukuri, masa lalu ditaubati, masa lalu dikembalikan kepada Allah SWT," pesan UAS.
"Siapa yang sudah berbuat baik kepada kamu maka balaslah. Kalau tidak sanggup, doakan mereka. Doa paling baik adalah doa istiqamah dalam Lailaha illa Allah Muhammad Rasulullah," kata UAS.
Ustadz Abdul Somad mengatakan, filosifi ketiga, dengan bersepeda kita diingatkan tentang umur.
Ustadz Abdul Somad mengatakan, seringkali seorang penceramah berkata kita akan mati, kita sudah tua.
Kepala kita sudah beruban, bapak ibu mari tatap wajah kita di cermin, rambut kita sudah putih.
"Dia tidak bisa mengajak begitu. Karena rambut orang dicelup itam sekarang," katanya.
"Tataplah wajah kita, sudah berkerut. Dia tak bisa ngomong gitu karena orang seklarang operasi plastik. kerutnya sudah tidak ada," paparnya.
• Hukum Puasa di Bulan Rajab Menurut Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat
Bagaimana kemudian mengingatkan orang? Satu di antara caranya adalah dengan bersepeda.
Menurut Ustadz Abdul Somad, saat waktu SD dirinya bersepeda sekitar 18 kilometer.
Tapi sekarang, baru dua kilometer nafas rasanya sudah setengah.
Hal itu menurut UAS mengingatkan kepada dirinya sendiri bahwa dia sudah tua.
"Ternyata kita sudah tua," kata UAS.
Selanjutnya, filosofi bersepeda yang keempat adalah menjaga kelestarian alam.
"Banyak orang ngomong saja (tentang melestarikan alam). Buktinya mana? Ini mereka tak pernah ngomong, mereka berkayuh menjaga kelestarian," kata UAS.
Menurut UAS, pelajaran kelima dari bersepeda adalah kita musti berjamaah.
Jangan pernah memisahkan diri dari jamaah.
"Karena kalau sudah memisahkan diri dari jemaah, pasti tersesat, tidak tahu jalan," katanya.
"Selambat-lambatnya yang berjemaah di belakang pasti tidak nyasar karena masih nampak teman di depan," jelasnya.
UAS berpesan untuk mencaril jamaah yang dapat menjaga dan Islam kita.
"Jamaah yang membuat kita takut kepada Allah. jemaah yang membuat kita selamat dari buat dosa," pesannya.
UAS mengatakan, filosofi keenam dari bersepeda adalah tentang berpisah.
"Ada masanya kita bersama, ada masanya kita berpisah," katanya.
UAS kemudian menceritakan, ada seorang pakai gaun lucu menangis di tepi makam temannya. meneteskan air mata.
Ternyata mereka berteman, bersahabat, akrab berjalan bersama.
Mereka pernah bersepakat nanti siapa yang mati belakangan pakai gaun lucu duduk di tepi kuburnya.
"Mereka sangka waktu itu hanya untuk lucu-lucuan. mereka sangka kalau mati bisa ketawa di samping kuburnya. Ternyata gaun lucu tetap dipakai tetapi meneteskan air mata," paparnya.
"Kita akan berpisah. Tapi kita tidak pernah bercerai, karena kita tetap akan bersama dalam doa," paparnya.
Filosofi ketujuh menurut UAS dari bersepeda adalah kesehatan.
"Bahwa kita bisa beribadah kalau sehat. Maka jaga kesehatan," kata UAS.
Ustadz Abdul Somad mengatakan, bersepeda menjadi satu di antara cara menjaga kesehatan. (*)