Gapoktan Tuai Manfaat Pasca Dibantu Bank Indonesia

sebelum ada bantuan RMU, petani hanya sekedar bercocok tanam untuk pangan rumah tangga saja, banyak dapat beras tapi tidak tahu mau dijual kemana

Editor: Nina Soraya
TRIBUN PONTIANAK/ NINA SORAYA
Salvius Aliong mengolah gabah ke dalam mesin penggilingan di tempat penggilingan gabah milik Gapoktan Jaya Bersama, Desa Kepayang Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah, belum lama ini. Bantuan alat ini diberikan Bank Indonesia Kalbar agar petani dapat menghasilkan nilai tambah dengan menyerap gabah anggota dan menjualnya dalam bentuk beras. 

Fetrus mengungkapkan, Gapoktan Jaya Bersama tahun ini diberikan target sekitar 50 ton setahun, dan saat ini omzet yang mereka kelola berjumlah sekitar Rp 200 juta. "Semua dana itu dikelola oleh Gapoktan, uang ratusan juta kami kelola dengan baik, untuk operasional dan jual beli," imbuhnya.

Maskun Amri: Saat Ini Sanggau Masih Kekurangan Guru

Kasus DBD Meningkat, Ini Masyarakat Sekadau pada Dinas Terkait

Salvius Aliong, adalah satu di antara anggota Gapoktan Jaya Bersama yang ditugaskan untuk mengelola gudang penggilingan milik Gapoktan. Setiap hari dia menerima 1 hingga 2 ton gabah dari petani.

"Dalam sehari itu bervariasi, jika di hitung rata-rata jumlah gabah yang masuk itu 1 sampai 2 ton, kadang lebih kadang kurang, kalau sedang musim panen padi, bisa sampai 3 ton," ujarnya.

Salvius menjelaskan, dari 1 ton gabah yang di giling, akan menjadi beras sebanyak 650 kilogram. Kemudian beras yang baru digiling akan dikemas menggunakan karung ukuran 10 kilogram dan dijual kepada masyarakat dan para pedagang beras.

Salvius mengatakan, mereka diberi tugas untuk menjual beras dan gabah dibawah harga pasar. Untuk beras sendiri, kepada masyarakat umum mereka mematok harga Rp 10 ribu per kilogram, untuk dinas akan lebih murah yakni Rp 8000 sampai Rp 9000 per kilogram.

"Setiap hari selalu ada yang membeli, dan menjual di sini, tidak pernah sepi. Apalagi ketika tidak musim panen, tapi kita tetap menjual dibawah harga pasar. Karena tujuan kita disini mensejahterakan masyarakat," ujarnya.

Manager Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Djoko Juniwarto menjelaskan penyerahan bantuan alat penggiling gabah ini diharapkan agar petani dapat menghasilkan nilai tambah dengan menyerap gabah anggota dan menjualnya dalam bentuk beras.

Program ini sejalan dengan program yang dicanangkan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI. Pada 2012 diluncurkan program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) .

Tidak berhenti disitu, kini program LDPM tersebut oleh BKP Kementan dikembangkan lagi menjadi program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). Oleh BKP Kementan RI melalui Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar diberi bantuan biaya operasional sebesar Rp 60 juta dengan kewajiban menjual beras dengan harga Rp 8.800 melalui Toko Tani Indonesia (TTI) dan Toko Tani Indonesia Center (TTIC).

“Program yang berjalan sejak tahun 2016 ini pun relatif lebih mudah dilaksanakan oleh DPPKH dan Gapoktan mengingat mereka sudah siap dengan RMU dukungan BI yang telah ada,” rincinya.

Dari 20 Gapoktan pelaksana PUPM dengan kewajiban 50 ton per tahunnya per Gapoktan, kini setidaknya ada 1.000 ton beras dengan harga Rp 8.800/kg yang dihasilkan Gapoktan PUPM dan bisa dinikmati oleh masyarakat setiap tahunnya melalui program PUPM tersebut.

“Belum terlalu banyak memang, tetapi setidaknya BKP Kementan RI melalui DPPKH Provinsi Kalbar dan dukungan KPwBI Provinsi Kalbar telah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat konsumen maupun Gapoktan pelaksana program,” ungkapnya.

Djoko melanjutkan inilah satu di antara kolaborasi yang dilakukan KPwBI Kalbar dalam mendukung program yang dijalankan Pemprov Kalbar, semoga kegiatan ini dapat menjadi penyeimbang suplai komoditas beras dengan harga di bawah pasar dalam rangka pengendalian inflasi,” katanya.

Ribuan Warga Hadiri Tabligh Akbar di Mapolres Sambas

Ketua DPRD Kapuas Hulu Angkat Bicara Larangan Media Meliput Audensi Guru Honorer

Djoko menjelaskan Bank Indonesia ikut konsen memperhatikan masalah pangan, terutama beras. Oleh karena beras merupakan kelompok bahan makanan yang menjadi komponen yang paling berpengaruh terhadap laju inflasi.
“Bobotnya besar sekali. Kalau ini terganggu maka dampak besar sekali. Saat ini kita lihat memang sangat terjaga dan ini penting untuk selalu kita jaga dan kendalikan,” katanya.

Beri Harga Layak

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved