Sutarmidji : Jaringan Distribusi LPG 3 Kg Tidak Transparan
Sutarmidji menyebut, terjadinya kelangkaan gas elpiji ini diduga terjadi permainan oleh pangkalan
Penulis: Anggita Putri | Editor: Jamadin
Midji juga menyatakan bahwa data kuota gas elpiji dari Pemprov Kalbar kepada Pertamina sudah benar. Sebab, kelangkaan elpiji tidak terjadi setiap saat alias hanya terjadi sesekali. Namun yang jadi masalah, kata dia, ada permainan dibalik hal ini.
“Masalahnya, data itu sudah benar. Karena kelangkaan ini tidak terjadi setiap saat, hanya sesekali saja orang ngantri. Artinya, ada permainan. Semuanya sudah diatur, kalau data yang kita sampaikan tidak sesuai, harusnya kelangkaan terjadi sepanjang waktu, ini kan waktu-waktu tertentu saja, harusnya bisa diantisipasi dengan operasi pasar,” imbuhnya.
Menurutnya, kuota pasokan elpiji sudah cukup bahkan lebih. Hanya saja terjadi permainan, sehingga menyebabkan terjadinya kelangkaan.
Baca: Link Live Streaming MolaTV Canelo vs Kovalev Tinju Dunia Segera Berlangsung
Ia menegaskan bahwa soal kuota itu lebih, namun ada hal-hal yang lebih tak beres lagi.
"Kemarin itu ada tabung gas kosong dari Sungai Raya dalam dibawa ke Kuala Dua. Untuk apa? Indikasinya kan pengoplosan. Kita belum tahu nih tempatnya di mana, kalau dapat atau ketahuan nanti kita lihat,” tegasnya lagi.
Ia menilai setiap kali ada disparitas harga antara subsidi dengan non subsidi yang terlalu jauh, maka di situ akan ada spekulan sehingga terjadi kelangkaan. Misalkan solar, kata Midji, pasokannya melebihi dari yang diperkirakan.
Tapi karena ada disparitas harga antara subsidi dengan non subsidi, maka akhirnya jadi terjadi antrian.
“Sebelumnya selisih cuma Rp1.000 sampai Rp2.000 tidak ada yang ngantri. Berarti itu ngantri cuma untuk ngambil saja, kemudian jual kembali,” ungkap Midji.
Sutarmidji pun mencontohkan, truk bermuatan 100 liter, kalau ambil untung Rp3 ribu per liter berarti ada Rp300 ribu total keuntungannya.
Jika keuntungan tersebut bisa dua kali lipat, maka Midji menilai pelaku ngantri ini tidak perlu ngambil barang atau usaha lain, sebab sudah mendapat untung banyak.
“Sama juga dengan elpiji. Belum lagi ada tiga rumah makan menggunakan 90 tabung gas subsidi, bayangkan itu untuk 90 rumah tangga dipakai tiga rumah makan, ketahuan razia dengan Pol-PP dan Diskumdag. Harusnya hubungi Polisi, kalau terjadi demikian. Itu kan termasuk kejahatan ekonomi karena menjual dari HET, proses. Kapok orang, percayalah,” pungkas Sutarmidji.