Ria Norsan: Saphrahan Mengajarkan Arti Kebersamaan dan Kesetiakawanan Sosial

Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan membuka secara resmi acara Festival Saprahan yang dilaksanakan oleh Pemkot Pontianak

Ria Norsan: Saphrahan Mengajarkan Arti Kebersamaan dan Kesetiakawanan Sosial
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANGGITA PUTRI
Foto Wakil Gubernur Kalbar, H Ria Norsan saat menghadiri acara Diskominfo Kalbar di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Senin (14/10/2019). 

Ria Norsan: Saphrahan Mengajarkan Arti Kebersamaan dan Kesetiakawanan Sosial

PONTIANAK - Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan membuka secara resmi acara Festival Saprahan yang dilaksanakan oleh Pemkot Pontianak dalam rangka HUT ke 248 Kota Pontianak.

Norsan menyampaikan adat dan budaya harus dijaga karena perdaban tak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Oleh sebab itu, acara saprahan yang dilangsungkan ini sangat diapresiasinya untuk melestarikan budaya yang ada.

"Banyak sekali budaya kita, maka itu haris terus dijaga dan dilestarikan, dalamnya terkandung nilai-nilai etik dan moral, serta norma-norma kehidupan sehari-hari," ucap Norsan saat diwawancarai awak media seusai acara di PCC Kota Pontianak, Kamis (17/10/2019).

Nilai-nilai yang terkandung didalam setiap adat budaya mampu menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat, menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi.

Baca: Ria Norsan: Perawat Harus Profesional Dalam Memberi Pelayanan Kesehatan

Baca: Terima Kunjungan Rombongan Maktab Pertahanan Angkatan Tentara Malaysia, Ini Penjelasan Ria Norsan

Bahkan menurut Mantan Bupati Mempawah ini, kearifan lokal merupakan modal sosial dalam perspektif pembangunan yang berwawasan lingkungan yang diolah, dikaji dan ditempatkan pada posisi strategis untuk dikembangkan menuju pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan ke arah yang lebih baik.

Budaya yang ada harus dipertahankan secara terus menerus, dari waktu ke waktu, dengan sendirinya akan menjadi proyek dalam membentuk identitas budaya lokal.

Peserta festival saprahan menyajikan beragam menu makanan saat mengikuti festival saprahan yang digelar tim penggerak PKK kota Pontianak, di PCC, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (17/10/2019). Festival Saprahan ini digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-248 kota Pontianak.
Peserta festival saprahan menyajikan beragam menu makanan saat mengikuti festival saprahan yang digelar tim penggerak PKK kota Pontianak, di PCC, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (17/10/2019). Festival Saprahan ini digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-248 kota Pontianak. (TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA)

Dijelaskannya, tradisi Saprahan merupakan manifestasi kegotongroyongan, hidup saling menjaga keberagaman dipandang sama yang merupakan jamuan makan yang melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya bukan hanya yang hadir untuk menikmati makanan tapi juga yang menyiapkan sajian tertentu.

"Makan saprahan bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah, hubungan baik antar manusia, dengan semangat gotong-royong yang sangat kental tanpa membedakan latar belakang seseorang apakah dia itu unsur pejabat, tokoh maupun orang yang dituakan," tambah Norsan.

Selain itu, saprahan memiliki makna duduk sama rendah, berdiri sama tingg, yang terkesan kental dengan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial.

Budaya yang ada ditengah masyarakat harus dikembangkan dan dikemas dengan baik, supaya dapat di jual sebagai wisata budaya sekaligus sekaligus kuliner, dengan demikian tradisi saprahan juga dapat menjadi kekuatan untuk memajukan daerah, dengan kehadiran wisatawan.

Penulis: Syahroni
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved