Khawatir Jadi Korban Rasis di Kalbar, Mahasiswa Papua Temui Gubernur
Sutarmidji meminta mahasiswa asal Papua untuk terus belajar tanpa perlu merisaukan situasi politik yang ada di luar.
Penulis: Anggita Putri | Editor: Didit Widodo
Dari dulu sampai sekarang belum ada penyelesaian hukum HAM di Papua. Menurut dirinya pribadi aparat keamanan dan pemerintah harus menegakkan keadilan secara adil, ia sendiri merasa tertekan soal rasisme ini.
Pada saat ini jumlah mahasiswa Papua yang ada di Pontianak sekitar 100 an. Ia mengatakan bahwa saat ini Pemerintah Kalimantan Barat sudah menjamin keamanan mereka .
"Tentu saya merasa aman ketika sudah ada jaminan dari pemerintah dan aparat keamanan di Kalbar ini ," ujarnya
Ia tegaskan bahwa kelompok yang menyuarakan Papua berpisah dengan NKRI tidak ada sangkut pautnya dengan para mahasiswa asal Papua, khususnya di Kalimantan barat.
Adanya anggapan-anggapan tersebut menurut dirinya karena situasi politik, padahal mahasiswa Papua di Kalbar tidak tau apa-apa soal itu.
"Kami di sini tidak untuk menyuarakan Papua Merdeka, tujuan kami datang kesini untuk kuliah agar kami bisa menjadi manusia yang merdeka dengan ilmu-ilmu kami, Saya berharap kita selalu menjaga silaturahmi bersama masyarakat Kalbar," ujarnya.
Ia juga mengatakan orang Kalbar orang yang suka menyatu dan baik.
"Kalau menurut saya orang Kalbar sangat baik, dari sejak saya datang ke sini sampai sekarang mereka selalu welcome. Kami harap hal itu terus dipertahankan di kalbar. Karena papua ini juga Indonesia, maka kami dituntut juga untuk menjaga persatuan dan kesatuan antara masyarakat Kalbar," ucapnya.
Selama dirinya tinggal di Kalbar belum ada terjadi kasus rasisme yang menimpanya. Ia paham orang Kalbar ini suka bercanda, jadi tidak pernah ambil hati candaan teman-teman di Kampus.
"Saya berharap dan menghimbau kepada kita semua jangan sampai ada sikap rasisme yang terjadi seperti di Papua. Karena kalau udah rasisme, bagi kami itu sudah menyangkut harga diri," pungkasnya. )