Barisan Pemuda Adat Nusantara Sebut Peladang bukan Pelaku Karhutla

Hingga pada akhirnya harapan kita terciptalah aturan yang tegas terhadap lahan Koorporasi yang terbakar

Barisan Pemuda Adat Nusantara Sebut Peladang bukan Pelaku Karhutla
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Dewan Pemuda Adat Nusantara (DEPAN) Region Kalimantan Paulus Ade Sukma Yadi 

Atas dasar UU di atas jika peladang masih dikenakan sangsi dan dikriminalisasi maka pemerintah dianggap telah melanggar hak asasi manusia (HAM) dalam melaksanakan keadilan kepada masyarakat.

Ade mengatakan jika kita berfikir secara adil dan rasional sebetulnya seluruh pihak harus memahami adanya Kabut asap akibat Karhutla sejak kapan. Apakah benar yang menyebabkan karhutla adalah petani atau koorporasi.

Baca: Istri Ahok Puput Nastiti Sudah Hamil 4 Bulan Lebih, Jenis Kelamin Bayi di Dalam Perutnya Terbongkar

Baca: Sedang Berlangsung LIVE Indosiar Semen Padang Vs PSIS Semarang, Cek LIVE Score Hasil Shoppe Liga 1

"Untuk menjawab pertanyaan di atas kita semua perlu paham akan pola kearifan lokal dan pola koorporasI yang hanya menggerus hasil bumi di Indonesia," tutur Ade.

Ia menilai maraknya perusahaan tambang telah banyak mengorbankan masyarakat akar rumput.

Seperti masyarakat kecil yang kurang memahami akan hukum yang berlaku di negeri ini.

Sama halnya dengan izin perusahaan sawit yang masih banyak tumpang tindih izin perusahaan.

"Karhutla sendiri maraknya semenjak perusahaan sawit, masuk ke Kalimantan, dapat dilihat di Kalteng dan Kalbar," ucapnya.

Untuk tambang sendiri di Kaltim dan Kalbar. Dimana sangat banyak konflik perusahaan dan masyarakat adat.

Korbannya selalu dimenangkan oleh perusahaan jika pun sedikit dimenangkan oleh masyarakat adat itu atas bantuan NGO dan LSM yang pro terhadap masyarakat serta membela atas dasar kerja sosial. 

"Kita sebut saja misalnya pendampingan hukum oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), LBBT, SAMPAN, WALHI, JARI dan JATAM serta lembaga yang aktif akan kepedulian terhadap lingkungan hidup," paparnya.

Halaman
123
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved