Keberatan Atas Tuntutan Jaksa, Penasehat Hukum Terdakwa Fakta di Persidangan

Erickson Pasaribu membenarkan bahwa memang terjadi penganiayaan, namun faktanya tidak seperti yang selama ini heboh beredar.

Keberatan Atas Tuntutan Jaksa, Penasehat Hukum Terdakwa Fakta di Persidangan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ FERRYANTO
Penasehat Hukum dari terdakwa penganiaya pada kasus Audrey, Erickson Pasaribu, 

Keberatan Atas Tuntutan Jaksa, Penasehat Hukum Terdakwa Fakta di Persidangan

PONTIANAK - Penasehat Hukum dari terdakwa penganiayaan pada kasus AU, Erickson Pasaribu SH mengaku bahwa pihaknya keberatan atas tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut bahwa kliennya harus menjalani pelayanan masyarakat masing - masing 3 bulan di Balai Pemasyarakatan kelas 2 Pontianak.

Erickson Pasaribu mengatakan bahwa yang paling pas terkait kasus ini adalah kliennya di kembalikan lagi ke orangtua masing - masing.

"Saya pribadi cukup keberaatan, untuk 3 bulan, meskipun itu dalam pengawasan, cuman yang kami minta ya pengurangan, tapi yang paling penting bagi saya si anak di kembalikan ke orang tua, karena orang tua lebih tau lebih mengerti bagaiman cara mendidik si anak, untuk kedepan itu akan kita kembalikan ke orang tua kembali," terang  Erickson Pasaribu.

Baca: Dialog Ekonomi Digital, OJK Imbau Masyarakat Agar Waspada Investasi

Baca: VIDEO: Tanggapi Harga Kelapa Merosot, Ini Penjelasan Kepala Disperindagnaker Mempawah

Terkait fakta - fakta persidangan,  Erickson Pasaribu membenarkan bahwa memang terjadi penganiayaan, namun faktanya tidak seperti yang selama ini heboh beredar.

Iapun menepis bahwa telah terjadi "pencolokan" pada kelamin AU oleh kliennya seperti yang sudah viral, yang mana hal tersebut di buktikan nya dengan hasil visum dari rumah sakit yang kemudian di sampaikan di persidangan.

"Kalau untuk fakta - fakta persidangan, bahwa sebenarnya kejadian tersebut memang ada terjadi perkelahian, tapi tidak sampai apa yang di media, media sosial bahkan yang menjadi atensi nasional, bahkan internasional," tambah Erickson Pasaribu.

"Didalam fakta persidangan bahwa pencolokan itu tidak terjadi, bahwa Kami juga penasihat hukum berpatokan bahwa pada hasil visum yang di keluarkan oleh rumah sakit Bhayangkara dan surat keterangan dari Pro Medika bahwa hasil tersebut keduanya menyatakan negatif, dan itu semua terbukti. Dan kalau kami sudah puas telah menyampaikan semua faktanya di persidangan, hanya saja kami keberatan atas tuntutan 3 bulan tersebut di shelter,"jelas Erickson Pasaribu..

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved