Idul Adha

Puncak Ibadah Haji, Dr Syarif : Hikmah Wukuf di Arafah

Tapi sebenarnya kemutlakan wukuf di ‘arafah dan kesyakralanya akan lebih terasa jika kita dapat mengenal ushul-nya wukuf di ‘arafah.

Puncak Ibadah Haji, Dr Syarif : Hikmah Wukuf di Arafah
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Ushul Dan Hikmah Wukuf Di' Arafah 

Puncak Ibadah Haji, Dr Syarif : Hikmah Wukuf di Arafah

Citizen Reporter Rektor IAIN Pontianak, Dr Syarif 

PONTIANAK - Wukuf di ‘Arafah adalah rukun haji yang paling mutlak. Artinya wukuf di ‘Arafah sangat ketat dan mendebarkan oleh karena kesyakralannya dan oleh karena waktunya terbatas.

Tidak seperti rukun haji yang lain yang bisa dikerjakan bergeser dari waktu keumuman.

Bahkan ada fatwa bahwa rukun bisa di jamak dengan wajib haji seperti thawaf ifadhah yang rukun dan thawaf wada’ yang wajib haji.

Oleh karena itu hatta hampir sekarat pun, hatta hanya satu detik pun menjelang batas akhir yaum ‘arafah, para haji harus hadir di sana.

Tapi sebenarnya kemutlakan wukuf di ‘arafah dan kesyakralanya akan lebih terasa jika kita dapat mengenal ushul-nya wukuf di ‘arafah. Dengan mengetahui USHUL ini maka akan terasa urgensinya ‘arafah dalam beragama. Ini nanti kaitannya adalah dengan bahwa “istithâ’ah-mampu” itu tidak sekedar mampu financial.

Mari kita mulai dengan pertanyaan, mengapa harus wukuf di padang ‘arafah dan kenapa tidak di padang yang lain. Apa pula sebabnya padang yang sebelum peristiwa perjumpaan Adam dengan Hawa itu hanya disebut “shakhrâ’-sahara” itu kemudian dikenal dengan nama ‘arafah’. Apa urgensinya dalam beragama ‘arafah itu dijadikan rukun utama dari haji.

Bermula dari hadis “al-hajju ‘arafah”, bahwa rukun syariat haji wukuf di arafah. Secara leterlek bahasa hadis ini tidak bermakna langsung wukuf di arafah. al-hajju ‘arafah ini secara bahasa berarti “haji itu mengenal”.

Baca: Sutarmidji Harap Komisi Penyiaran Indonesia Jadi Komisi Independen Laksanakan Tupoksinya

Baca: Ciptakan Kader Kreatif dan Inovatif, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama IPPNU Mempawah Gelar Makesta

Dalam kajian ma’rifat “haji/hujjah” itu diartikan “perjumpaan, berhadapan” dengan Tuhan, Allah Swt. Maka rangkian kata “al-hajju ‘arafah” itu artinya “berjumpa itu mengenal”.

Maka kemudian diartikan “berjumpa-berhadapan dengan Tuhan itu harus dengan mengenal Tuhan”. Dari kata ‘arafah ini dapat difahami hasis qudsi “ma’rifatullâhi billâhi-mengenal Allah Dengan Allah”. ‘araftu rabbî birabbî-mengenal Tuhanku Dengan Tuhanku”.

Halaman
1234
Penulis: Anggita Putri
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved