Dr Aswandi : Pembangunan Pendidikan Dimulai Dari Daerah Perbatasan

Dr Aswandi mengatakan jika ingin membangun negeri dari daerah perbatasan maka pendidikan yang ada di perbatasan juga harus diperhatikan

Dr Aswandi : Pembangunan Pendidikan Dimulai Dari Daerah Perbatasan
TRIBUNPONTIANAK/Anggita Putri
Dr Aswandi saat ditemui Tribun diruang kerjanya, selasa (30/7/2019) 

Dr Aswandi : Pembangunan Pendidikan Dimulai Dari Daerah Perbatasan

PONTIANAK - Pengamat Pendidikan Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengatakan jika ingin membangun negeri dari daerah perbatasan maka pendidikan yang ada di perbatasan juga harus diperhatikan.

Dr Aswandi mengatakan membangun Negeri dari daerah pinggir adalah hal yang bagus dan Malaysia sudah melakukan itu.

Seperti di bidang pendidikan sudah terlihat sekolah perbatasan Malaysia dengan sekolahnya yang bagus dan cenderung kepada Boarding school (Sekolah ber asrama).

"Jadi saya setuju jika dilakukan pembagunan sekolah di daerah perbatasan ditingkat SMA yang saat ini sedang diupayakan oleh Disdik Provinsi Kalbar," ujarnya saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (30/6/2019).

Ia mengatakan jika gubernur mau membangun 1 SMK unggulan disetiap Kabupaten . Kalau ada 14 Kabupaten jadi ada 14 sekolah dan membangun SMK itu mahal. Kenapa tidak membangun SMA di daerah perbatasan saja.

"Perbatasan kita ada 5 pintu tidak masalah kalau dibagun dengan Boarding School yang komplit dengan fasilitas yang memang disiapkan dan gurunya juga tinggal disitu bersama murid. Pasti akan banyak orang yang mau sekolah disitu walaupun dipinggir kota," ujarnya.

Baca: Kelompok 49 KKL Integratif 2019 IAIN Pontianak di Desa Peniti Luar Belajar Menganyam Lekar

Baca: Generasi Smart ASN Harus Siap Hadapi Revolusi Industri dan Dinamika Kebangsaan

Baca: UPT Pusat IPTEK dan Bahasa Kota Pontianak Sukses Gelar Lomba Karya Sains Junior Tahun 2019

Hal ini lama-lama akan berimbas. Mulai dari daerah sekitarnya dulu hingga menyebar.

"Saya kira itu bagus, tidak usah dulu di bangun di 14 kabupaten kalau memang keterbatasan biaya karena mahalnya membangun SMK kenapa tidak buat di daerah perbatasan seperti di Entikong, Badau, Aruk, Bengkayang, " ujarnya.

Apalagi jika pemerintah sekaligus membuat asrama. Jadi siswa tidak harus pulang pergi dengan menempuh jarak dari rumah ke sekolah yang sangat jauh di daerah perbatasan.

"Hanya tolong di catat boarding School sekolah berasrama tidak selalu dalam arti selalu ada asrama. Asrama dijadikan tempat untuk pembinaan karakter . Jadi harus ada guru atau pembina di asrama itu .Seperti di Pesantren selalu ada ustad disetiap kamar untuk menjaga anak-anak dan melatih mental. Jadi asrama bukan cuma untuk anak istirahat tapi sebagai tempat mengembangkan diri," ujarnya.

Ia mengatakan kalau pemerintah mau membangun seperti itu tidak masalah , tapi kalau hanya dibuat sekolah sama dengan sekolah yang biasa mungkin anak akan malas sekolah disitu karena tidak ada fasilitasnya.

"Kta mendukung untuk hal yang bagus dan rencana seperti ini bisa dilakukan bertahap dan tidak usah sekaligus, yang pertama bisa dibangun Sekolah perbatasan di 5 titik perbatasan di Kalbar . Karena kita juga mau bangun daerah di perbatasan, maka bangun juga pendidikannya yang di perbatasan," jelasnya.

Ia selalu berfikir dan menghayalkan pendidikan itu harus learning Community yang menggambarkan sebuah komunitas disitulah tempat orang belajar.

"Jika masuk Untan dan masuk Mall akan terasa berbeda. seperti masuk Mall kita merasa berada di pasar semua yang ingin kita belanja tersedia berarti betul itu adalah komunitas pasar. Lembaga pendidikan ini bukan komunitas pasar, tapi komunitas pembelajaran. Jangan sampai bangunan sekolah tidak menggambarkan sebuah tempat orang belajar malah menjadikan orang itu oranf yang bodoh," tegasnya.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved