Diduga Jadi Korban Travel Aplikasi Bodong, Warga Kaget Tagihan Bank

Adik sepupu saya juga ikut, tapi karena datanya gagal terverifikasi, dia tidak dapat uang itu,

Diduga Jadi Korban Travel Aplikasi Bodong, Warga Kaget Tagihan Bank
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIVALDI ADE MUSLIADI
Sekitar 50 warga di RT 01 RW 10 Jl. Kom Yos Sudarso Gang Alpokat Indah 5 Kelurhan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat, merasa menjadi korban penipuan, oleh oknum yang mengatasnamakan sebuah aplikasi travel perjalanan.¬†Warga kemudian berkumpul di rumah ketua RT yakni M. Yohanes untuk mengadukan hal tersebut, Rabu (10/7) malam. Kedatangan warga kermuah ketua RT tersebut untuk melaporkan atau mencari solusi atas peristiwa yang dialami oleh warga.¬† 

“KTP saya difoto dan dimasukan ke dalam aplikasi. Setelah berhasil verifikasi saya dikasih uang Rp 100 ribu. Tidak hanya saya, hampir semua warga di sini juga mengalami. Ini kita lagi mediasi dengan Pak RT, besok kami akan membuat laporan ke polisi," katanya.

Baca: PDAM Sanggau Tak Pernah Naikan Tarif, Andriyus Wijaya: Harga Per Kubik Rp 2.500 untuk Rumah Tangga

Hafid yang menjadi korban pemalsuan data mengaku, awalnya ia menyerahkan data identitas berupa KTP saat diajak oleh seorang warga lainnya bernama Fitriani.

"Beberapa bulan lalu kita diajak sama Bu Fitriani untuk foto KTP sama foto kita. Alasan beliau untuk poin aplikasi travel perjalanan Traveloka. Setelah itu kita dikasi uang Rp 100 ribu. Tapi ada juga yang dikasih Rp 50 Ribu, bagi datanya yang bisa terverifikasi," ujar Hafid saat diwawancarai Tribun.

Setelah menyerahkan data indetitas, ia bersama warga lainnya mendapat uang yang diberikan oleh oknum yang mengatasnamakan aplikasi perjalanan online tersebut. Selang beberapa bulan, tepatnya Rabu (10/7) siang, ada seorang warga yang ingin mengajukan pinjaman ke bank tetapi ditolak, karena namanya memiliki tagihan yang belum terbayarkan.

Merasa tidak ada melakukan pinjaman, warga menanyakan lebih lanjut ke pihak bank apakah nama tersebut benar dengan nama dirinya. Setelah pihak bank menujukkan data, pihak bank juga menyarankan untuk mengkonfirmasi ke pihak OJK untuk mengetahui kebenarannya.

Pihak OJK menujukkan bahwa memang benar nama tersebut telah melakukan pinjaman akan tetapi data informasi lainnya seperti alamat dan pekerjaan berbeda. Mengetahui hal tersebut dari warga yang sudah heboh, Hafid juga langsung mengecek namanya ke OJK. Dia merasa ikut menyerahkan data kepada seseorang beberapa waktu lalu.

Baca: Gidot: Kita Harus Bersama-sama Memajukan Budaya Lokal Sebagai Aset Budaya Nasional

"Setelah saya cek ke OJK, memang benar nama saya punya tunggakan yang harus dibayar sebesar Rp 8 juta. Padahal saya tidak ada mengajukan pinjaman kepada bank. Di berkas yang dikeluarkan OJK, data saya tertera dengan nama yang sama, tapi alamat dan pekerjaan berbeda. Pinjaman saya itu juga ada di Bank Sinarmas Tanah Abang (Jakarta). Kapan juga saya ke sana, selama ini saya hanya di Pontianak," kisahnya.

Ia melanjutkan, ada empat rekap berkas yang dikeluarkan OJK terkait data pribadinya yang digunakan untuk melakukan pinjaman ke bank. Masing-masing halaman berisi tagihan yang harus dibayar dengan jumlah yang berbeda setiap halaman, dengan total Rp 8 juta untuk setiap bulannya. Selain itu, rekening yang tertera di berkas OJK tersebut juga berbeda dengan rekening tabungan yang ia punya.

Sementara itu Kristina Theresia warga lainnya yang juga menjadi korban penipuan pemalsuan dokumen, mengaku ikut serta memberikan indetitas berupa KTP. Tak hanya dirinya, ia juga menyertakan mertua, dan adik sepupunya.

"Awalnya sempat ragu, tapi pas diajak ibu mertua saya jadi mau. Adik sepupu saya juga ikut, tapi karena datanya gagal terverifikasi, dia tidak dapat uang itu," ungkapnya.

Halaman
1234
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved