Sepekan Jelang Ramadan, Harga Kebutuhan Pokok di Kubu Raya Mulai Naik
Pantauan Tribun Pontianak di satu di antara pasar tradisional yang ramai dikunjungi masyarakat, yakni Pasar Melati, Desa Parit Baru, Kubu Raya.
Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Didit Widodo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella
TRIBUNPONTIANAKKUBU RAYA, TRIBUN - Sepekan jelang Ramadan, arus transaksi pedagang kebutuhan pokok di beberapa pasar tradisional kian bergeliat. Padahal, sejak sepekan belakangan sejumlah bahan pangan, terus saja merangkak naik.
Banyak warga sudah mulai mempersiapkan bahan pangan untuk berbuka dan sahur. Seperti telur, tepung, gula pasir, gula merah dan minyak goreng. Tak sedikit juga yang memborong mi instan.
Pantauan Tribun Pontianak di satu di antara pasar tradisional yang ramai dikunjungi masyarakat, yakni Pasar Melati, Desa Parit Baru, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (1/5/2019).
Harga daging ayam sudah mulai melambung tinggi pada kisaran Rp 32 ribu hingga Rp 33 ribu. Padahal, menurut penuturan salah seorang pedagang ayam, Ardiansyah, harga normalnya sehari-hari biasa Rp 25 ribu.
“Jelang bulan puasa harga sudah naik tinggi. Biasanya akan semakin tinggi sampai puncaknya pada lebaran yang bisa mencapai Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu per kilogramnya,” kata Ardiansyah.
Baca: Buruh Kalbar Tuntut Kenaikan Upah, Orasi Singgung Pilpres Bikin Rakyat Pecah
Baca: Reginna Raih Juara Satu Story Telling English Festival 2019
Baca: Pengadilan Agama Sungai Raya Canangkan Zona Integritas, Wujudkan Wilayah Bebas Korupsi
Kenaikan hargai ini, menurut dia disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ketersediaan bibit yang agak kurang dan pakan ayam yang terlalu mahal. Meski begitu, Ardiansyah yakin bahwa ketersediaan stok akan cukup untuk selama bulan Ramadan hingga Idul fitri nanti.
Tak dipungkirinya pula, dengan melonjaknya harga daging ayam minat beli masyarakat agak berkurang. “Adapun orang terpaksa karena butuh jadi mau tidak mau beli. Kasihan juga sih, melambung harga tinggi kasihan juga," kata Ardiansyah.
Tak hanya ayam, telur ayam juga mulai mengalami kenaikan rata-rata Rp 100 rupiah dari harga Rp 1.300 perbutir kecil hingga Rp 1.600. Biasanya bisa mencapai harga tertinggi mencapai Rp 2 ribu. Ada juga sayur mayur yang turut mengalami kenaikan cukup tinggi, terutama sawi keriting yang mencapai harga Rp 18 per kilo, padahal normalnya hanya Rp 8 ribu.
Begitu pula kangkung yang mengalami kenaikan Rp 2 ribu, dari Rp 6 ribu per kilogram menjadi Rp 8 ribu.
Fatmawati, yang kesehariannya menjual berbagai jenis sayuran mengungkapkan bahwa banyak pembeli mengeluh akan naiknya harga sayur. Apalagi kenaikan sudah terjadi sejak tiga hari belakangan, dengankisaran kenaikan yang bervariatif.
Adapun yang masih cukup stabil saat ini adalah harga bawang, di mana bawang merah justru mengalami penurunan dari harga Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 32 ribu per kilogram. Sedangkan bawang putih masih stabil dengan harga Rp 28 ribu per kilogram.
Kenaikan bahan pokok ini ternyata memang dikeluhkan masyarakat, contohnya Marsini yang berbelanja di Pasar Mawar, Desa Parit Baru. Dia mengaku keberatan dengan kenaikan harga barang jelang bulan Ramadan ini. “Semua naik, gula naik, gula merah gula pasir semua naik seribu-seribu. Ngeluh lah orang, pasti ngeluh, barang naik, mahal semua,” tukas Marsini.
Untuk itu, ia berharap pemerintah untuk turun tangan menstabilkan harga agar tetap seperti biasa
Tak hanya gula, menurut Marsini hampir semua barang mengalami kenaikan, termasuk sayur mayur yang kali ini terbilang mahal.“Barang tu naik semua, sayur-sayur jak mahal. Kacang panjang yang Rp 5 ribu sekarang jadi 14 ribu,” ungkapnya.